body {background:$bgcolor;background-image:url(http://i46.photobucket.com/albums/f143/tamita2000/blog2-5.jpg);background-position: center; background-repeat:no-repeat; background-attachment: fixed;margin:0; color:$textcolor; font:x-small Georgia Serif; font-size/* */:/**/small; font-size: /**/small; text-align: center;
World of RADIOLOGI
Arna

Followers

Kamis, 20 November 2014

Pengaruh Budaya terhadap Kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik perubahan dalam hal pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan dan sering berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang tinggal atau menetap pada tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat sangat berperan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi – tingginya, perkembangan sosial budaya ini merupakan tanda bahwa masyarakat tersebut telah mengalami perubahan dalam proses berfikir.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangat erat karna kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respon terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Oleh karna itu saya sebagai salah satu bagian dari tenaga kesehatan harus mampu membuat masyarakat mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana pula cara penanganannya.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan kesehatan dan Budaya ?
Bagaimana pengaruh kebudayaan terhadap bidang kesehatan ?
Bagaimana perubahan budaya mempengaruhi kesehatan ?



Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kesehatan dan Budaya.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebudayaan terhadap bidang kesehatan.
Untuk mengetahui Bagaimana perubahan budaya mempengaruhi kesehatan

Manfaat Penulisan
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai bagaimana pengaruh kebudayaan dan lingkungan terhadap bidang kesehatan
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa Atro yang lain.














BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Kesehatan dan Budaya
Pengertian Kesehatan
Menurut UU No.23 1992
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut WHO (World Health Organisation)
Kesehatan adalah keadaan yang sempurna dari fisik, mental dan sosial serta tidak cacat dan bebas dari penyakit.
Menurut Perkins (1938)
Sehat adalah keadaan yang seimbang dan dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Menurut MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Kesehatan adalah sebagai ketahanan jasmani, ruhaniyah, dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunanNya dan memelihara serta mengembangkannya.
Menurut White (1977)
Kesehatan adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan apapun ataupun tidak terdapat tanda – tanda suatu penyakit dan kelainan.
Menurut Neuman (1982)
Sehat adalah suatu keseimbangan biopsiko sosio culture dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten.

Pengertian Budaya
Menurut Croydon (1973 : 4)
Budaya adalah suatu system pola terpadu yang sebagian besar berada di bawah ambang batas kesadaran namun semua yang mengatur perilaku manusia seperti senar dimanipulasi dari control boneka gerakannya.
Nostrand (1989 : 51)
Budaya merupakan sikap dan kepercayaan cara berfikir, berperilaku, dan mengingat bersama oleh anggota komunitas.
Richard Brisling (1990 : 11)
Kebudayaan sebagai mengacu pada cita – cita bersama secara luas nilai pembentukan dan penggunaan kategori asumsi tentang kehidupan dan kegiatan goal directed yang menjadi sadar tidak sadar diterima sebagai “banar” dan “benar” oleh orang – orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota masyarakat.
Raymond Williams (1961 : 16)
Budaya adalah seluruh kehidupan materi intelektual dan spiritual.
Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berprilaku baik secara individu maupun kelompok.
Dr. Moh. Hatta
Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
Sutan Takdir Alisyahbana
Kebudayaan merupakan manifestasi dari cara berfikir.

Pengaruh Kebudayaan Terhadap Bidang Kesehatan
Kebudayaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan ilmu kesehatan diantarnya :
Pengaruh Tradisi
Pengaruh tradisi adalah pengaruh yang telah lama dilakukan dan sudah menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Ada beberapa tradisi di dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat.
Misalnya Seorang ibu yang baru saja melahirkan mendapat pantangan untuk memakan telur, daging, dan sebagainya. Ibu tersebut hanya diperbolehkan memakan nasi dan garam serta kecap saja dengan alasan gatal – gatal dan alasan lain, hal ini sudah dilakukan turun temurun dan membudaya di lingkungan masyarakat tersebut. Seharusnya adalah ibu yang baru melahirkan memakan makanan bergizi agar mempercepat proses penyembuhan jaringan dalam tubuh ibu tersebut. Karna hal tersebut sudah merupakan kebiasaan pada msyarakat setempat sehingga ibu yang melahirkan melaksanakan anjuran tersebut.

Pengaruh Fatalistis
Pengaruh fatalistis adalah pengaruh yang mampu membuat seseorang  bersikap putus asa apabila menghadapi suatu masalah Sikap fatalistis ini juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contonya : beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik) yang beraga islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya.

Sikap Etnosentris
Sikap etnosentris adalah sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain. Masyarakat tentu memiliki budaya dan ilmu kesehatan juga memiliki budaya.
Misalnya : pada masyarakat tertentu seorang anak yang sedang luka dilarang memakan telur karna alasan telur dapat membuat luka tersebut infeksi gatal – gatal dan lama sembuh, itu adalah budaya yang salah dan tidak sesuai dengan budaya kesehatan yang mengharuskan anak tersebut memakan telur agar mempercepat penyembuhan jaringan.

Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Pengaruh perasaan bangga pada statusnya misalnya dalam upaya perbaikan gizi disuatu daerah pedesaan tertentu menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat beranggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing dan mereka menolaknya karna status mereka tidak dapat disamakan dengan kambing.

Pengaruh Norma
Contonya dalam hal upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karna ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan ibu hamil sebagai pengguna pelayanan.



Pengaruh Nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Contonya : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih daripada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi diberas daripada beras putih.

Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya manusia biasa makan nasi sejak kecil akan sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa.

Perubahan Budaya Mempengaruhi Kesehatan
Ada tiga alur tingkatan pengaruh budaya terhadap kesehatan. Pengaruh ini dari urutan atas ke bawah menunjukkan peningkatan kompleksitas dan pengaruhnya bersifat semakin tidak langsung pada kesehatan.
Pada alur paling atas terlihat bagaimana perubahan pada kondisi mendasar lingkungan fisik contonya : suhu ekstrim atau tingkat radiasi ultraviolet yang dapat mempengaruhi biologi manusia dan kesehatan secara langsung. Misalnya sejenis kanker kulit.
Alur dua tingkatan lain yaitu ditengah dan bawah mengilustrasikan proses – proses dengan kompleksitas lebih tinggi termasuk hubungan antara kondisi lingkungan fungsi – fungsi ekosistem dan kodisi sosial ekonomi.

Alur tengah dan bawah menunjukkan tidak mudahnya menemukan korelasi langsung antara perubahan lingkungan dan kondisi kesehatan. Akan tetapi dapat ditarik benang merah bahwa perubahan – perubahan lingkungan ini secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab atas faktor – faktor penyangga utama kesehatan dan kehidupan manusia, seperti :
Produksi bahan makanan
Air bersih
Kondisi iklim
Keamanan fisik
Kesejahteraan manusia dan jaminan keselamatan serta kualitas sosial
Para praktisi kesehatan dan lingkungan pun akan menemukan banyak domain permasalahan baru, menambah deretan permasalahan pemunculan toksi ekologi lokal, sirkulasi lokal penyebab infeksi sampai kepengaruh lingkungan dalam skala besar yang bekerja pada gangguan kondisi ekologi dan proses penyangga kehidupan ini. Jelaslah bahwa resiko terbesar dari dampak perubahan budaya atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya.








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut UU No.23 1992 Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut Dr. Moh. Hatta Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
Pengaruh Kebudayaan Terhadap Bidang Kesehatan dipengaruhi oleh :
Pengaruh Tradisi dan Pengaruh Fatalistis
Sikap Etnosentris
Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Pengaruh nilai dan Pengaruh norma
Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
Resiko terbesar dari dampak perubahan budaya atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya.

Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan-keterangan yang lebih mendetail tentang materi-materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah yang ditulis oleh penulis.
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan motivasi bagi para pembaca ,khususnya bagi penulis untuk lebih giat dalam mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan dibidang radiologi.

DAFTAR PUSTAKA

http://sitirohmie.blogspot.com/2013/04/makalah-pengaruh-sosial-budaya.html
http://kesehatankeluarga.net/pengaruh-taraf-budaya-terhadap-kesehatan-198.html
http://kesehatankeluarga.net/pengaruh-kemajuan-pengetahuan-terhadap-kesehatan-202.html
http://cowkerf11.blogspot.com/2014/01/contoh-makalah-konsep-dasar-kesehatan.html
http://www.bascommetro.com/2009/04/pengaruh-budaya-terhadap-kesehatan.html
http://kesehatankeluarga.net/bagaimana-pengaruh-lingkungan-terhadap-kesehatan-128.html



Efektifitas dan Efisiensi Pelayanan Radiologi

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah kini terus menerus dan berupaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan baik yang bersifat promotif preventif, kuratif dan rehabilitasi. Peran tersebut semakin dituntut akibat adanya perubahan yang terjadi pada epidemiologik penyakit, perubahan struktur organisasi, perubahan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan perubahan pada sosial ekonomi masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk dapat memperoleh kepuasan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan pada rumah sakit melalui pelayanan prima serta rumah sakit diharapkan mampu menghasilkan keunggulan kompetitif dengan pelayanan bermutu, efektif, efisien dan inovatif. sehingga tidak lagi terdengar adanya keluhan dari pihak pemakai layanan kesehatan yang biasanya menjadi sasaran ialah sikap dari tindakan dokter atau perawat, sikap petugas administrasi serta sarana dan prasarana yang kurang memadai, kelambatan pelayanan kesehatan serta kurangnya persediaan obat.
Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana efektifitas dan efisiensi pelaksanaan pelayanan kesehatan khususnya pada instalasi radiologi di rumah sakit H.Padjonga daeng ngalle Kabupaten Takalar.


Rumusan Masalah
Apakah defenisi dari efektifitas dan efisiensi ?
Bagaimanakah efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi pada rumah sakit secara umum ?
Bagaimanakah efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi pada rumah sakit H.Padjonga daeng ngalle Kabupaten Takalar.

Manfaat dan Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui defenisi dari efektifitas dan efisiensi
Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi secara umum
Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi pada rumah sakit H.Padjonga daeng ngalle Kabupaten Takalar.









BAB II
PEMBAHASAN

Defenisi Efektifitas dan Efisiensi
Pengertian efektifitas secara umum merupakan tingkat pemenuhan output atau tujuan proses. Semakin tinggi pencapaian target atau tujuan proses maka dikatakan proses tersebut semakin efektif. Proses yang efektif ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih baik dan lebih aman.
Pengertian efektifitas menurut beberapa ahli :
Hidayat (1986)
“Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas, dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi pula efektifitasnya”.
Schemerhon John R. Jr. (1986:35)
“Efektiitas adalah pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran (OA) atau seharusnya dengan output realisasi atau sesungguhnya (OS). Jika (OA) lebih besar dari (OS) maka disebut efektif”.
Prasetyo Budi saksosno (1984)
“Efektifitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai dengan output yang diharapkan dari sejumlah input”.
Pengertian efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber daya dalam suatu proses. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber daya maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses efisien ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih murah dan lebih cepat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa efektifitas lebih mengarah pada hasil yang akan dicapai sedangkan efisiensi mengarah pada proses pencapaian hasil tersebut.
Efektifitas dan Efisiensi Pelaksanaan Radiologi pada Rumah Sakit
Standar Pelayanan Radiologi Diangnostik sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.1014/Menkes/SK/XI/2008
Manajemen dan Administrasi
Struktur Organisasi
Dalam setiap instalasi pelayanan radiologi diagnostik ada struktur organisasi yang mengatur jalur komando dan jalur koordinasi dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pelayanan radiologi diagnostik. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam upaya manajemen pelayanan radiologi diagnostik.
Komponen yang ada dalam struktur organisasi adalah :
Kepala Instalasi atau Unit Radiologi Diagnostik
Kepala Pelayanan Radiologi Diagnostik
Staf Fungsional
Dalam melaksanakan tugasnya kepala instalasi dapat dibantu oleh coordinator yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan tanpa meninggalkan unsur efiensi dan efektifitas.
Tata Administrasi
Sistem administrasi pelayanan radiologi diagnostik meliputi :
Loket penerimaan pasien
Ruang Diagnostik
Pembacaan hasil roentgen
Penyimpanan hasil roentgen
Loket pengambilan hasil

Pelayanan Radiologi Diagnostik
Perizinan
Setiap sarana pelayanan kesehatan jika menyelenggarakan pelayanan radiologi diagnostik harus mempunyai izin pelayanan dari Departemen Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota sesuai peraturan yang berlaku.
Setiap peralatan yang menggunakan radiasi pengion harus mempunyai izin pemanfaatan alat dari BAPETEN.
Peralatan yang dicabut izin penggunaannya oleh BAPETEN tidak dapat digunakan untuk pelayanan radiologi diagnostik.
Penambahan alat baru yang menyebabkan perubahan denah ruangan, harus diberitahukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan melampirkan :
Fotokopi legalisir asli izin penggunaan alat dari BAPETEN beserta dokumen penyertanya.
Fotokopi legalisir asli izin edar peralatan kesehatan dari Departemen Kesehatan.
Sarana pelayanan kesehatan yang mengalami perubahan nama dan kepemilikan, pindah lokasi harus mengganti izin pelayanan.
Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia pada pelayanan radiologi diagnostik :
Dokter Spesialis Radiologi
Radiografer
Fisikawan Medik
Tenaga Teknis Elektromedik
Petugas Proteksi Radiasi
Perawat
Tenaga Ilmu Teknologi
Tenaga Kamar Gelap dan administrasi
Jenis dan jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam instalasi radiologi diagnostik digolongkan berdasarkan :




































Ruang Lingkup Radiologi Diagnostik
Pelayanan Radiodiagnostik
Pelayanan Radiodiagnostik adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi pengion, seperti X – ray konvensional maupun X – Ra Mobile, Computed Tomography Scan (CT Scan), dan mammografi.
Pelayanan Imejing Diagnostik
Pelayanan imejing diagnostik adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi non pengion antara lain pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan USG.
Pelayanan Radiologi Intervensional
Pelayanan radiologi intervensional adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dan terapi intervensi dengan menggunakan peralatan radiologiseperti Angiografi. Pelayanan ini menggunakan radiasi pengion maupun non pengion.












Efektifitas dan Efisiensi Pelaksanaan Pelayanan Radiologi pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Kabupaten Takalar
Rumah Sakit Umum Daerah H.Padjonga Daeng Ngalle adalah Rumah Sakit Umum Daerah Type C yang terletak di pusat kota Takalar yang beralamatkan di JL. Ince Husain Dg. Parani Takalar. Di dirikan pada Tahun 1981 . Rumah Sakit Umum Daerah Haji Padjonga Daeng Ngalle bertanggung Jawab langsung kepada Kepala Daerah TK II Kab. Takalar. Pada Tanggal 21 Agustus 2003 berubah Status dari Type D Ke Type C, dengan SK MenKes RI No. 119/MenKes/SK/XIII. 2003.
Visi Rumah Sakit Umum Daerah H.Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Terwujudnya pelayanan prima dengan sistem terpadu menuju pengembangan RSUD Takalar sebagai pusat rujukan selatan selatan.
Misi Rumah Sakit Umum Daerah H.Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Memberikan pelayanan kesehatan dasar, spesialistik, subspesialistik yang bermutu tinggi dan terjangkau.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui sistem pendidikan berkelanjutan.
Menjadikan RSUD Haji Padjonga Daeng Ngalle sebagai rumah sakit yang bersih, indah dan ramah lingkungan di Propinsi Sulawesi Selatan.
Pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi standar pelayanan untuk menunjang pelayanan kesehatan yang prima.






Struktur Organisasi pada Instalasi Radiologi

Kepala Instalasi Radiologi

Kepala Ruangan Radiologi

Staf Fungsional    











Tata Administrasi
Proses Penerimaan Pasien
Pasien datang ke radiologi membawa surat pengantar dari dokter untuk dilakukan tindakan radiologi diagnostik.
Petugas radiologi mencatat nama pasien tersebut ke dalam buku register kemudian pasien diberikan nomor foto atau no urut identitas film pasien.
Proses Pemeriksaan Pasien
Setelah proses administrasi selesai pasien diarahkan ke ruangan pemeriksaan.
Petugas radiologi memanggil pasien sesuai dengan no urut foto pasien ke dalam ruang pemeriksaan kemudian radiografer melakukan tindakan radiodiagnostik.
Setelah dilakukan tindakan radiologi diagnostik maka pasien diarahkan ke ruangan tunggu sementara radiografer melakukan proses pencucian film di kamar gelap.
Setelah proses pencucian selesai foto tersebut di bawa ke ruangan dokter spesialis radiologi untuk dibaca dan hasil baca dokter dimasukkan ke dalam amplop yang berisi foto pasien.
Proses Pembuatan Laporan
Rangkapan hasil baca dokter disimpan oleh petugas radiologi sebagai arsip.
Radiologi membuat laporan jumlah pasien yang datang ke radiologi setiap bulannya berdasarkan buku register pasien kemudian laporan tersebut diserahkan ke tata usaha medis.

Sumber Daya Manusia
Pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Takalar sumber daya manusia yang tersedia yaitu :
Dokter Spesialis Radiologi sebanyak dua orang
Radiografer sebanyak 12 Orang
Tenaga Elektro Medik sebanyak 2 orang

Ruang Lingkup Radiologi Diagnostik
Ketersedian Alat radiologi diagnostik
Pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Takalar memiliki alat sebanyak empat buah yang terdiri dari :
1 buah pesawat sinar X mobile
2 buah pesawat sinar X konvensional
1 buah automatic processing
1 buah pesawat Ultrasonografi (USG)
Tindakan Pelayanan
Pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Takalar melakukan tindakan radiologi diagnostik atau foto roentgen pada :
Pemeriksaan pada tulang eksremitas atas dan bawah
Pemeriksaan kontras
BNO IVP
Myelografi
Histerosalpinografi
Uretrocistografi
Colon In Loop
Oesofagografi
MaagDuodenum
Angiografi
UltraSonografi (USG)
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pengertian efektifitas secara umum merupakan tingkat pemenuhan output atau tujuan proses. Semakin tinggi pencapaian target atau tujuan proses maka dikatakan proses tersebut semakin efektif. Proses yang efektif ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih baik dan lebih aman.
Pengertian efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber daya dalam suatu proses. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber daya maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses efisien ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih murah dan lebih cepat.
Efektifitas dan Efisiensi Pelaksanaan Radiologi pada Rumah Sakit harus sesuai dengan standar Pelayanan Radiologi Diangnostik sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.1014/Menkes/SK/XI/2008 :
Manajemen dan Administrasi
Pelayanan Radiologi Diagnostik
Pelayanan kesehatan pada instalasi radiologi di rumah sakit H.Padjonga Daeng ngalle Kabupaten Takalar sudah efektif dan efisien karna prosedur pelayanannya serta sarana dan prasarana yang dimiliki pada rumah sakit tersebut sudah memenuhi standar sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan  No. 1014 / Menkes /sk /XI /2008

Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan-keterangan yang lebih mendetail tentang materi-materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah yang ditulis oleh penulis.
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan motivasi bagi para pembaca ,khususnya bagi penulis untuk lebih giat dalam mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan dibidang radiologi.













DAFTAR PUSTAKA

http://jilndage.blogspot.com/2012/01/definisipengertian- efektifitas.html?m=1
http://datastudi.wordpress.com/2008/07/12efektivitas-pelayanan-kesehatan-pada-rumah-sakit-umum/
http://contohdanfungsi.blogspot.com/2013/10/pengertian-efisien-dan-efektifitas.html?m=1
http://radiologi-xl.blogspot.com/2009/10/iii-pelayanan-radiologi-diagnostik.html?m=1
http://dansite.wordpress.com/2009/03/28/pengertian-efektifitas/
http://muzayyinahns.blogspot.com/2012/11/pengertian-efektifitas-danefisien.html?m=1



Rabu, 19 November 2014

Ercp

ANATOMI DAN FISIOLOGI
ANATOMI
KANDUNG EMPEDU









Gambar 1
Anatomi Kandung Empedu

Kandung empedu adalah sebuah kantong berbentuk terong dan merupakan membran berotot. Letaknya di bagian inferior hepar pada lobus dextra bersebelahan dengan lobus quadratus.umumnya mempunyai panjang 8-12 cm, dan dapat berisi ± 60 cc.kandung empedu terdiri dari :
1. Fundus
2. Corpus
3. Collum
Kandung empedu terdiri dari tiga pembungkus yaitu, lapisan paling luar atau serosa peritoneal, lapisan kedua berupa jaringan berotot tak bergaris, lapisan paling dalam merupakan membrane mukosa.kandung empedu mempunyai beberapa ductus yaitu ductus sistikus, ductus coledhocus, ductus hepaticus comunis yang merupakan pertemuan dari ductus hepaticus sinistra dan dextra.
PANKREAS

Gambar 2
Anatomi pancreas

Pankreas adalah organ pada  sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama:  menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting.
Pankreas terletak di bagian belakang rongga perut bagian atas, dan terbentang horizontal  dari usus halus Ke organ limfa.
Panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 2,5 cm. Pankreas berfungsi sebagai organ endokrin dan eksokrin. Fungsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau Langerhans.

FISIOLOGI
KANDUNG EMPEDU
Fungsi kandung empedu tempat penyimpanan dan pemekatan getah empedu yang dihasilkan oleh hati, kotraksi kandung empedu dan relaksasi dari sphincter Oddi di ketengahi oleh hormon Cholecyctokinin yang di sebabkan oleh dinding duodenum sebagai reaksi dari lemak intramural dan asam amino. Getah empedu dikelurkan 500-1000 cc/hari,sekresinya berjalan terus-menerus dan dipercepat pada saat pencernaan lemak. Kandung empedu mempunyai dua fungsi yaitu fungsi kholeretik yang menyebabkan sekresi empedu bertambah dan fungsi kholagogi yang menyebabkan kandung empedu mengosongkan diri.
PANKREAS
Pankreas merupakan kelenjar eksokrin (pencernaan) sekaligus kelenjar endokrin.
Fungsi endokrin
Sel pankreas yang memproduksi hormon disebut sel pulau Langerhans, yang terdiri dari sel alfa yang memproduksi glukagon dan sel beta yang memproduksi insulin.
Fungsi eksokrin
Kelenjar eksokrin pada paankreas disebut acini,  yang menghasilkan enzim yang terlibat pada proses pencernaan ketiga jenis molekul kompleks makanan.

INDIKASI
Pankreatitis Akut
Pankreatitis Kronis
Kista Pankreas
Tumor Pankreas
Perubahan Kantung Empedu
Batu dan Polip
Tumor Kandung Empedu
Kelainan Kantung Empedu yang Jarang (Kista saluran empedu, Sindroma Caroli)
Perubahan Kantung Empedu
Kolangitis Arborisasi Intrahepatik pada perubahan Hepar yang primer (Hepatomegali,   Sirosis Hepatis, Tumor dan Metastase)
C. KONTRA INDIKASI
Sensitif kontras media
Pankreatitis Akut yang membentuk abses.
Kista pancreas.

D. PROSEDUR PEMERIKSAAN
PENGERTIAN ERCP
Endoskopi adalah suatu alat yang digunakan untuk memeriksa organ dalam tubuh manusia. Dapat secara visual dengan mengintip menggunakan alat tersebut (rigid/fiber-skop) atau langsung melihat pada layar monitor (skop evis), sehingga kelainan yang ada pada organ tersebut dapat dilihat dengan jelas (Agus Priyanto, 2009, hlm. 13)
Salah satu peralatan endoskopi medical adalah fiberskop di mana bagian dari alat yang masuk kedalam organ bagian dalam tubuh (saluran cerna) berbentuk pipa yang lentur (fleksibel) dan di dalamnya terdapat serat-serat optic yang berfungsi sebagai pemungut gambar serta pembawa cahaya. (Agus Priyanto, 2009, hlm. 13)
Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan penunjang yang memakai alat endoskopi untuk mendiagnosis kelainan-kelainan organ di dalam tubuh antara lain saluran cerna, saluran perkemihan, rongga mulut, rongga abdomen, dan lain-lain
Tindakan Endoskopi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.      Gastroskopi
2.      Kolonoskopi
3.      ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography)
Yang dibahas dalam makalah ini adalah tindakan ERCP
ERCP (endoscopoc retrograde cholangiopancreatography) adalah pemeriksaan di tunjukan untuk fisualisasi dengan bahan kontras secara retrograde dan mengetahui langsung saluran empedu eferen dan duktus pankreatikus dengan memakai suatu duodenoskop dan mempunyai pandangan samping (G.Pott, 1995, hlm. 3).
ERCP merupakan suatu perpaduan antara pemeriksaan endoskopi dan radiologi untuk mendapatkan anatomi dari sistim traktus biliaris (kolangiogram) dan sekaligus duktus pankreas (pankreatogram).
ERCP suatu cara pemeriksaan infasif, yang hanya dilakukan apabila ada indikasi positif yang kuat. Biasanya merupakan langkah terakhir dari suatu seri pemeriksaan dan dipakai untuk deteksi atau diferensisi suatu penyakit saluran empedu atau pancreas setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan telah dilengkapi dengan pemeriksaan laboratories, sonografis, serta radiologis.

PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
Fiber optic endoscope, yakni satu bendel glass fibre disatukan dan xenon light illuminator. Ditengah alat ini ada saluran untuk masuk kateter untuk memasukan kontras media
Pemeriksaan dilalukan dengan bantuan fluoroscopy dan TV monitor
Pesawat roentgen yang dilengakapi florouskopi.
Endoskopik tube.
Wire guide.
Kaset ukuran 24x30 cm.
Film Rontgen ukuran 24x30 cm.
Apron
Gonad shield
Obat dan peralatan emergensi

Persiapan Bahan Kontras
Untuk saluran pankreas, Meglumine diatrizoate 65% (Angiografin) karena kontras media seharusnya memiliki kandungan Iodine yang tinggi dan rendah keracunan. Garam Meglumine digunakan sebagai pencampuran Garam Sodium sebagai karena sakit ketika bahan kontras disuntikkan dan mungkin karena pasien tersebut menderita pankreatitis.
Untuk Saluran Empedu, Meglumine iothalamate 60% (Conray 280) karena bahan media kontras tersebut diharuskan tidak terlalu hitam atau dengan kata lain opasitas kecil, seperti pada contoh yang disebabkan oleh papilloma atau radiolucent calculi empedu, harus digelapkan.

PERSIAPAN PASIEN
Tanyakan apakah pasien hamil atau tidak.
Tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat asma atau tidak.
Pasien diminta menginformasikan tentang obat-obatan yang dikonsumsi.
Pemeriksaan darah lengkap dilakukan 1-2 hari sebelumnya.
Pasien puasa 5-6 jam sebelum pemeriksaan dimulai.
Bila diperlukan, pasien dapat diberikan antibiotik.
Penandatanganan informed consent (IC).
Plain foto abdomen.
Premidikasi ameltocaine lozenge 30 mg.
Media kontras :
untuk Pancreatic Duct Angiografin 65% 
untuk Billiary Duct diberikan Conray 280.

TEKNIK PEMERIKSAAN
Pasien disedasi atau dianesthesi.
Pasien miring di sisi kiri pada meja pemeriksaan.
Endoskop dimasukan melalui mulut,turun ke esofagus, kemudian gaster,melalui pylorus, dan masuk ke dalam duodenum dimana terdapat Ampulla of  Vater (pembukaan common bile duct dan pancreatic duct) dan Sphincter of Oddi  adalah muscular valve yang mengatur pembukaan ampulla.
Kemudian sebuah cannula atau catheter dimasukan melalui ampulla, dan zat radio kontras disuntikkan ke dalam duktus biliaris dan duktus pankreatikus.
Endoskopi diposisikan pada bagian tengah duodenum dan papilla vateri.
Poly kateter diisi media kontras (berada di pertengahan endoskopi).
Dibuat spot foto dipandu dengan fluoroscopy.






Gambar 3
Gambar alat Duodenoskop








Gambar4 A: Normal biliary and pancreatic ducts during an ERCP, B: ERCP image

HASIL RADIOGRAFI


Gambar 1.2
Ket :

Gambar 5
Pankreatogram Retrograd Normal

Keterangan Gambar :
Duktus santorimi tidak berkembang. Dapat di lihat processus unsinatus dan mempunyai ciri-ciri tersendiri (panah).
Duktus wirsungianus berjalan agak ke cranial. Pada kauda terlihat percabangan perifer yang baik.






Gambar 6
Karsinoma korpus pancreas

Keterangan gambar :
Diagnosis : Karsinoma korpus pancreas
Klinis : seorang wanita berusia 68 thn dengan penurunan berat badan, dan keluhan abdomen bagian atas . Dari pemeriksaan sonografi, terdapat kecurigaan adanya proses desak ruang di daerah korpus pancreas.
ERCP : Sumbatan total duktus di sebelah proksimal korpus dan tidak ada tanda-tanda pancreatitis koronis.
Komentar : Dapat dipertimbangkan terapi pembedahan karena keadaan umum  baik dan tidak terdapat penekanan pada saluran empedu eferen. 




Gambar 7
Tumor

Keterangan gambar :
Diagnosis : karsinoma Intraluminal saluran empedu
Klinis : seorang wanita berusia 66 thn dengan nyeri abdomen merata yang akut pada kwadran kanan atas dan ikterus yang progresif.
ERCP : Kelainan letak dan bendungan salran empedu secara endoskopik transpapilier (stenting) untuk paliatif.

POST TINDAKAN
Memindahkan pasien dari meja radiologi ke tempat tidur pasien
Mengobservasi tanda-tanda vital, muntah dan tingkat kesadaran
Serah terima pasien kepada perawat ruangan setelah keadaan umum pasien memungkinkan
Menyampaikan program dokter kepada perawat ruangan
Pasien dipuasakan 4 jam pertama setelah tindakan ERCP
Membersihkan dan membereskan alat.

PERAWATAN POST PROSEDUR 
Pasien dimonitor hingga efek dari obat-obatan hilang.
Setelah pemeriksaan : pasien mungkin akan mengalami perasaan tidak nyaman pada tenggorokan, kembung & nausea (udara yg masuk).
Komplikasi yg mungkin muncul : pancreatitis, perforasi, pendarahan ataupun reaksi alergi akibat sedative.
Informasikan pada pasien untuk melaporkan apabila muncul fever, nyeri yang hebat ataupun pendarahan.














KESIMPULAN
ERCP (endoscopoc retrograde cholangiopancreatography) adalah pemeriksaan di tunjukan untuk fisualisasi dengan bahan kontras secara retrograde dan mengetahui langsung saluran empedu eferen dan duktus pankreatikus dengan memakai suatu duodenoskop dan mempunyai pandangan samping
Pemeriksaan ERCP  dapat dilakukan pada tahap terakhir setelah pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan telah dilengkapi dengan pemeriksaan laboratories, sonografis serta radiologis. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan utuk melihan kelainan yang ada pada kandung empedu, pasien yang terserang penyakit ini biasanya merasakan nyeri pada bagian kanan atas perut itu akibat dari saluran empedu yang tersumbat karena adanya batu atau terjadi infeksi. Rasa nyeri itu biasanya timbul perlahan hingga sampai pada puncaknya dan kembali hilang perlahan, rasa nyeri itu timbul hanya beberapa jam saja.
Media kontra yang digunakan : untuk Pancreatic Duct Angiografin 65%  dan untuk Billiary Duct diberikan Conray 280










DAFTAR PUSTAKA
Artawijaya Ajung, 2012. Teknik Radiografi Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP) (online) http://catatanradiograf.blogspot.com/2010/08/teknik-radiografi-endoscopic-retrograde.html. diakses tahun 2012
G.pott, B.Schameyer,dkk, 1995. ERCP-ATLAS.jakarta : penerbit buku kedokteran
latifin khoirul, 2011. Anatomi fisiologi pancreas,(online) http://khoiiirul.blogspot.com/2014/02/anatomi-fisiologi-pankreas.html. diakses tgl  26 februari 2014
Manaluboyalex, 2014. Seputar dunia radiologi, (online) http://setanmantul.blogspot.com/2014/01/ercp-endoscopicretrograde-colangio.html. diakses tgl 15 januari 2014
Tanzemarie, 2013. Tindakan endoskopi,(online) http://dokumenlon.blogspot.com/2013/06/tindakan-endoskopi.html. diakses tgl 15 juni 2013




Plebografi

PLEBOGRAFI
Anatomi














Pembuluh darah merupakan salah satu system peredaran di dalam tubuh manusia. Pembuluh darah terdiri atas tiga bagian yaitu pembuluh darah arteri, vena dan kapiler. Pembuluh darah vena berfungsi mengantarkan darah ke jantung. Dinding pembuluh darah terdiri tiga lapisan yaitu lapisan terluar terdiri atas jaringan ikat yang fibrus yang disebut tunika advesia, lapisan tengah berotot tipis, kurang kuat, lebih mudah kempis dan kurang elastic dibandingkan dengan arteri, dan lapisan paling dalam yang endothelial disebut tunika intima.

Untuk pemeriksaan plebografi harus mengetahui sistem peredaran darah pada extrimitas inferior, yaitu pembuluh darah apa saja yang melewatinya dan kearah mana pembuluh darah tersebut berjalan.  Terdapat dua macam pembuluh darah, yaitu :

Pembuluh darah Arteri
Dimulai dari Arteri Femoralis yang berjalan melintasi sisi medial paha dan disepertiga bawah paha berjalan dibelakang sendi lutut, dimana menjadi Arteri Poplitea. Kemudian bercabang lagi menjadi dua arteri utama untuk melayani extrimitas inferior.
Arteri Tibialis Anterior terletak disebelah bagian anterior otot betis, dan berjalan melintasi lekukan pergelangan kaki menjadi arteri Dorsalis Pedis. Arteri ini melayani stuktur pada sebelah dorsal kaki dan memberi cabang kepermukaan dorsal semua jari kaki. Arteri-arteri ini dapat diraba, ditengah-tengah antara maleolus lateral dan medial, didepan sendi pergelangan kaki dalam kedudukan dorsofleksi.
Cabang kedua dari Arteria Poplitea ialah Arteri Tibialis Posterior, yang berjalan kebawah dibelakang Tibia, terletak disebelah dalam otot tungkai bawah. Arteri ini masuk kedalam telapak kaki melalui sebelah belakang Maleolus dibawah jaringan retikulum pergelangan kaki. Kemudian bercabang menjadi Arteri Plantaris Medial untuk melayani struktur ditelapak kaki.





Pembuluh Darah Vena
Pembuluh darah Vena yang terbesar adalah Vena Safena Magna yang panjang dimulai dari sebelah medial dorsum kaki dan menerima cabang-cabang Vena dari daerah ini, kemudian berjalan keatas disebelah medial tungkai dibelakang lutut untuk muncul kedepan lagi dan akhirnya menembus fasia kedalam Vena Femoralis yang berda di dalam selaput Femoralis.
Vena Safena kecil yang pendek mulai pada sisi lateral kaki. Berjalan dibelakang Maleolus lateralis dan melalui tengah tengah betis tungkai kearah lutut. Cabang-cabang dari kaki dan dari belakang tungkai diteima dan akhirnya menembusi fasia di dalam daerah poplitea untuk bergabung dengan Vena Poplitea ( dalam ).
Pada pemeriksaan Plebografi yang diperiksa hanyalah Pembuluh Darah Vena yang berjalan berlawanan arah dengan Pembuluh Darah Arteri. Pembuluh Darah Arteri berjalan dari jantung sampai ke kaki bagian bawah sedangkan Pembuluh Darah Vena berjalan dari kaki bagian bawah kembali manuju jantung.








Gambar 1 dan 2  Anatomi Peredaran darah Arteri dan Vena pada Extremitas Inferio
Patologi dan Indikasi Pemeriksaan
Beberapa kelainan patologis yang terjadi pada pembuluh darah tungkai bawah antara lain : deep vein trombosit (DVT), flebitis, thrombosis vena dan trombo-flebitis. Varises istilah Varises vena menunjukkan adanya dilatasi vena, yang secara khas disertai keadaan vena yang memanjang dan berkelok-kelok. Penyebab varises vena yang pasti belum diketahui. Varises dibedakan menjadi primer dan sekunder. Penyebab varises primer tampaknya adalah kelemahan structural dari dinding pembuluh darah yang diturunkan. Dilatasi dapat disertai gangguan katup vena karena daun katup tidak mampu menutup dan menahan aliran refluks. Varises primer cenderung terjadi pada vena-vena permukaan karena kurangnya dukungan dari luar atau kurangnya resistensi jaringan subkutan.
Varises sekunder disebabkan oleh gangguan patologi system vena dalam yang ditimbulkan konginental atau didapat, menyebabkan dilatasi vena-vena permukaan, penghubung atau kolateral. Jika katup vena penghubung tidak berfungsi dengan baik, maka peningkatan tekanan sirkuit vena dalam akan menyebabkan aliran balik darah kedalam vena penghubung. Darah vena akan dialirkan ke vena permukaan dari vena dlam, hal ini merupakan predisposisi untuk timbulnya varises sekunder pada vena permukaan. Pada keadaan ini vena permukaan berfungsi sebagai pembuluh kolateral untuk system vena dalam.
Indikasi Pemeriksaan ini dilakukan untuk :
Menentukan letak kedalaman pembuluh darah vena
Kemampuan katup pada pembuluh darah vena
 Letak kebocoran pada pembuluh darah vena
Ketiga hal tersebut merupakan indikasi dari Deep Vena Thrombosis  (pembengkakan dinding pembuluh darah vena) dengan atau tanpa pulmonary atau embolism penyumbatan dan penggumpalan pada pembuluh darah dan Oedema.
Kontra Indikasi 
Pasien dengan riwayat alergi kontras media berat
Kehamilan
Umur tua dengan status cardiopulmonary berat

Prosedur Pemeriksaan
Pengertian
Plebografi atau secara umum disebut juga venografi adalah pemeriksaan pembuluh darah vena pada bagian extrimitas bawah (anggota gerak bawah) dengan penyuntikan kontras media langsung kedalam vena superficial pada telapak kaki bagian dorsal.. Pembuluh vena yang sering dilakukan pada pemeriksaan ini antara lain : vena orbitalis, vena extrimitas inferior, vena cava inferior.
Alat dan Bahan
Steril
Sclap vein set (butterfly needles) ukuran 19 dan 23
Spuit 20 dan 50 ml
Flexible connections dan Y-Shape connector
Drawing-up cannula dan Gallipot
Kain kassa dan Baju pasien
Unsteril :
Skin cleanser (Hibitine 0,5 %)
Local anastesi (Lignocaine 1 %)
Kontras Media (Meglumine Iothalamate 60 %, Conray 280)
Jarum disposible
Infus
Plester
Obat-obat emergency

Persiapan Pasien sebelum prosedural
Pasien tidak makan dan minum selama 5 jam sebelum tindakan
Pasien mixie sebelum pemeriksaan
cek status renalis (BUN, Creatinin) dan hidrasi, khususnya penderita diabetes
Informed consent
Kurangi kecemasan pasien, jika perlu sedasi dengan diazepam 10 mg per oral
Mendapatkan hasil dari test noninvasif sebelumnya atau venogram

Teknik Pemeriksaan
 Foto Pendahuluan
Pasien diposisikan supine, dipertengahan meja pemeriksaan
Foto mencakup tungkai atas, lutut, tungkai bawah dan ankle dengan menggunakan under couch tube.
Foto Selanjutnya
Pasien diberikan premedikasi, yaitu Omnophon sebelum pemeriksaan kemudian berikan anastesi lokal pada daerah vena superficial pada bagian telapak kaki bagian dorsal
Jika memungkinkan pemeriksaan pasien dilakukan dengan posisi erect, agar pembuluh darah vena bagian dalam akan lebih terlihat. Posisi erect tidak dapat dilakukan pada pasien yang memiliki kasus vena trombosis akut, tetapi pada kasus seperti ini pasien diatur supine dengan menyudutkan meja pemeriksaan 20°-30° dengan posisi kaki lebih rendah dari kepala.
Lakukan kompresi pada ankle, pada beberapa kasus biasanya dilakukan kompresi di beberapa bagian seperti pada bagian bawah lutut untuk memperkuat pengisian pembuluh darah vena pada kaki.
Kompresi tersebut lebih bagus bila dilakukan dengan mengikatkan tali yang ukuran lebarnya 5 cm (2 inci).
Pemasukan kontras media dilakukan dengan penyuntikan jarum kecil yang disambungkan dengan flexible polythen (butterfly needle) ke dalam pembuluh darah vena di kaki bagian dorsal dan pastikan jarum tetap pada posisinya dengan cara dilekatkan dengan plester.
Pada saat penyuntikan kontras media kompresi harus dikencangkan dan pasien diminta melakukan valsava manufer (pasien diminta untuk menarik napas lalu keluarkan sekuatnya sambil mulut ditutup dan hidung dijepit dengan dua jari). Instruksi ini dilakukan agar memberikan efek untuk mengembangkan pembuluh darah vena agar menjadi lebih besar dan gambaran katup lebih terlihat pada gambar.
Kaki yang diperiksa diatur endorotasi untuk memisahkan gambaran tibia dan fibula agar tidak overlapping dan tidak menutupi pembuluh darah vena.
Kontras media disuntikkan sedikit demi sedikit dengan kecepatan penyuntikan 5-6 ml/detik hingga vena yang diperiksa penuh, lalu suntikan kembali kontras media untuk mengisi penuh vena yang akan diperiksa selanjutnya sambil mengatur kompresinya. Biasanya untuk mengisi penuh vena pada tungkai bawah diperlukan waktu 5-10 detik setelah penyuntikan. Sedangkan untuk mengisi penuh vena pada tungkai atas diperlukan waktu 15-20 detik setelah penyuntikan.
Perjalanan kontras media diikuti dengan fluoroscopy dan pengambilan foto AP dan Lateral yang dilakukan mulai dari tungkai bawah dengan melepas kompresi pada ankle lalu ke tungkai atas dengan melepas kompresi pada lutut sambil pasien melakukan valsava manufer sesuai instruksi dari dokter radiologi.
Untuk melihat vena illiaca diatur kompresinya dan kemiringan meja pemeriksaan juga dapat membantu memperlihatkan gambaran pangkal dari vena cava inverior.
Setelah pemeriksaan pasien harus diinfus agar konsentrasi kontras media berkurang dalam pembuluh darah berkurang dan lebih mudah diserap oleh tubuh.

Prosedural dan Foto
Lakukan puncture vena dengan memilih vena perifer pada dorsum pedis kemudian pasang tourniquet pada proksimal paha dan distal betis.
Injeksikan kontras 100-150 ml terus menerus, pastikan bebas reflux darah, tidak ada subcutaneous extravasasi (terasa nyeri dan lokal sweeling selama pemberian kontras) dan injeksi kontras mudah dimasukkan pada salah satu kaki dengan  tekanan yang cukup, posisi pasien seperti pada gambar 1.
Ikuti kontras IV secara intermitten dengan fluoroskopi. Diinjeksikan dengan tangan lebih dari 2 menit







Gambar 3 CR-Arah sinar dan penyudutan dari meja pemeriksaan
Pada tiap-tiap tungkai Extremitas Inferio
Sinar tegak lurus dengan kaset film dibawah lutut,  45-60 derajat sudut dibentuk antara meja pemeriksaan dengan bidang datar.
Sinar fokus pada lutut yang tegak lurus dengan kaset film, 30-45 derajat sudut dibentuk antara meja pemeriksaan dengan bidang  datar.
Sinar fokus pada cavum pelvis yang tegak lurus dengan kaset film, 15-30 derajat sudut antara meja pemeriksaan dengan bidang datar.
Posisi supine dengan sinar frontal tegak lurus dengan film setinggi umbilicus; opsifikasi pada vena iliaka dan IVC dilakukan dengan maneuver valsalva selama elevasi kaki
















Hasil Radiografi
Lower limb venogram
Right Popliteal Vein
Thrombus

Thrombus






Normal left lower limb venogram
Common Iliac Vein

External Iliac Vein

Femoral Vein

Popliteal Vein

Kesimpulan
Plebografi adalah pemeriksaan radiografi dari pembuluh darah Vena pada bagian extrimitas bawah (anggota gerak bawah) dengan menyuntikkan kontras media langsung kedalam vena superficial pada telapak kaki bagian dorsal.
Indikasi Pemeriksaan
Menentukan letak kedalaman pembuluh darah vena
 Kemampuan katup pada pembuluh darah vena
 Letak kebocoran pada pembuluh darah vena
Ketiga hal tersebut merupakan indikasi dari Deep Vena Thrombosis  (pembengkakan dinding pembuluh darah vena) dengan atau tanpa pulmonary embolism  ( penyumbatan dan penggumpalan pada pembuluh darah ) dan Oedema.
Kontra Indikasi 
Pasien dengan riwayat alergi kontras media berat
Kehamilan
Umur tua dengan status cardiopulmonary berat






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Plebografi. Online: http://setanmantul.blogspot.com/2014/02/plebografi.html. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2012. Plebografi. Online: http://stockingsehat.blogspot.com/2012/07/plebografi.html. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2012. Teknik Pemeriksaan Plebografi. Online: http://blogbabeh.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false_17.html. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2010. Gambar Peredaran pembuluh darah Vena Extremitas Bawah. Online: http://3.bp.blogspot.com/_yfGe_52-Yx4/TUPlY15jHpI/AAAAAAAAAA4/L9yPPYeHKGc/s1600/pendarahan-vena-ekstremitas-bawah.jpg. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2013. Gambar Anatomi pendarahan Vena Extremitas Bawah. Online: http://3.bp.blogspot.com/_e6KHJps0mEU/TP-QrkipCoI/AAAAAAAAAC0/WSTLWmuqa0w/s320/em_2399.gif. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Briand, G. 1998. Diagnostic Radiologic: Third Edition.
Ballinger, Phillip W. 1986. Merrill’s Atlas Of Radiographic Positions and Radiologic Procedures: Vol. Three_ Sixth Edition. USA:Mosby.









































PLEBOGRAFI

Disusun
Oleh :
Kelompok I
AHMAD WAHYU MANGGALATUNG ARTIAH
ANDI MUHAMMAD AKRAM AWALIYAH
ANDI NURUL CHUTAMI ELVITA A. SOLEMAN
ANTON CIREMAI PUTRA ARNA ANUGRAHWATI
FIRDAYANTI BUGIS FITRYANINGSIH
FAISAL ALBAR

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI ( ATRO )
MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014



Senin, 17 November 2014

Cara mencerahkan kulit wajah secara alami

Treatment kecantikan dari dalam tubuh
Diawali dengan pembiasaan gaya serta pola hidup
yang sehat. Akan sangat membantu dalam proses
pemutihan wajah secara optimal. Diantaranya
adalah dengan rajin mengkonsumsi makanan
yang sehat dan bergizi serta ditunjang asupan
sayur serta buah-buahan. Dengan demikian
terjadinya perbaikan regenerasi sel kulit mati
serta tergantikan dengan yang baru. Efek positif
lainnya yang dihasilkan dari makan sayur dan
buah-buahan adalah memberi asupan nutrisi
yang berkecukupan sehingga kulit wajah tampak
lebih segar, sehat dan cerah. Didukung dengan
banyak minum air putih sekurangnya 2 liter
perhari atau setara dengan 8 gelas banyaknya
akan menjaga dari dehidrasi,kulit jadi tidak sehat
dan cenderung kering.
Treatment kecantikan dari luar tubuh
Beragam treatment kecantikan luar tubuh yang
bisa dipraktekan, semisal memanfaatkan bahan-
bahan alami sebagai masker wajar agar kelihatan
lebih cerah, putih dan sehat selalu.
Buat masker bengkoang
Ditilik dari namanya bahan dasarnya memang
dari buah bengkoang. Cukup dengan
menghaluskan bengkoang lalu dioleskan pada
wajah selama setengah jam. Bilas kemudian
dengan air dingin.
Terapi dengan buah Mentimun atau tomat
Meskipun ini cara yang sudah lama dipakai
kebanyakkan orang, tidak ada salahnya mencoba.
Potong bundar dan tipis-tipis buah mentimun
atau bisa juga tomat, lalu tempelkan pada
permukaan wajah. Dengan memberikan efek yang
menyegarkan bisa memberikan terapi baik pori-
pori kulit membuka, hingga otomatis kotoran bisa
mudah keluar.
Masker kentang
Biarpun terasa asing bisa dicoba masker satu ini
yang berbahan dasar kentang. Karena dipercaya
akan vitamin B kompleks, vitamin C serta mineral
yang dibutuhkan mampu menjadikan kulit wajah
tampak cerah. Dengan memilih kentang segar dan
dihaluskan lembut kemudian dicampur dengan
1sdt madu, balurkan sebagai masker wajah.
Diamkan beberapa saat. Lalu bilaslah air sampai
bersih. Lakukan selama kurang lebih 3 kali dalam
seminggu. Tunggu hasilnya hingga kulit wajah
tampak merona cerah, sehat dan berseri-seri.
Masker buah pepaya
Buah sederhana nan sehat ini dianggap memiliki
kandungan vitamin A, vitamin C serta
betakaroten yang tinggi bisa dimanfaatkan
menjadi masker wajah. Hanya dengan
mengoleskan buah papaya yang halus, diamkan
beberapa saat, kemudian bilas dengan air sampai
bersih.
Membasuh dengan air sisa teh
Cara ini kerap dilakukan orang jaman dulu, dalam
mendapatkan wajah yang bersih, sehat tanpa
noda ada baiknya memanfaatkan sisa air teh
yang telah mengendap. Dipercaya meluruhkan
sel-sel kulit mati dan memberikan aroma
ketenangan serta kesegaran pada wajah.
Masker dari beras
Ternyata dalam beras terkandung sejumlah
vitamin yang baik untuk vitalitas kesehatan kulit
yakni vitamin E, yang diyakini sebagai antioksidan
dan melindungi kulit dari paparan sinar violet.
Setelah rendaman beras ditumbuk halus,
dicampurkan dengan takaran kecil madu,
kemudian oleskan sebagai masker wajah.
Diamkan beberapa saat kemudian baru bilas
dengan air dingin.
Demikian hal simple dalam cara mencerahkan
kulit wajah secara alami . Jika dilakukan secara
konsisten dan teratur, niscaya kulit wajah cantik,
segar serta cerah akan mudah diperoleh. Semoga
bisa memberikan manfaat.



Jumat, 14 November 2014

EX

Andai keinginanku bisa terwujud sekarang ini detik ini menit ini pastinya rasanya akan sangat lega
Keinginanku tidak banyak bahkan tidak runit. Saya hanya ingin melupakan semua tentangmu apapun itu tentangmu. Inginku melupakanmu bukan karna ada rasa benci, dendam bahkan penyesalan sedikitpun terhadap waktu dan takdir yang telah mempertemukan kita.
Hanya satu alasanku untuk melupakanmu yaitu setiap mengingatmu mata ini berkaca kaca bagaimana tidak kehidupan yang telah engkau jalani selama ini begitu keras, rumit dan bahkan bisa dikatakan jauh dari kata kehidupan yang layak. Layak dalam artian dirimu begitu haus akan kasih sayang dari kedua orang tua. Semua itu hilang saat ibunya kembali hadapan sang pencipta, saat itu pula yang saya ketahui kehidupannya berubah.

Saya bersyukur bangat punya keluarga yang utuh Alhamdulillah dan karna itulah setiap saya ingat dia saya merasa kasihan. Andai Tuhan mengabulkan permintaanku untuk bisa menghapus semua data tentangnya yang sudah tersave di memori ini.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Most Read