body {background:$bgcolor;background-image:url(http://i46.photobucket.com/albums/f143/tamita2000/blog2-5.jpg);background-position: center; background-repeat:no-repeat; background-attachment: fixed;margin:0; color:$textcolor; font:x-small Georgia Serif; font-size/* */:/**/small; font-size: /**/small; text-align: center;
World of RADIOLOGI
Arna

Followers

Rabu, 29 Oktober 2014

Mereka-mereka ini adalah kaum yang tak didengarkan. Kaum "Mustadhafin" yang pekik air mata, suara tangis menderu diatas jam dan waktu. Mereka ini adalah kaum-kaum yang mengatasnamakan dirinya rakyat tertindas, mereka adalah kurcaci-kurcaci yang dijadikan lambang permainan birokrasi. Duduk disamping tembok mendengar tawa para penyamun yang telah menyandra bangsa dengan sejumlah bualan-bualan konyol. Mereka yang meminum air matanya sendiri dan memakan tipuan-tipuan tahta yang sejenak lupa pada peraduan kehidupan laksana suara azan dan gerakan salat. Mereka-mereka adalah manusia muda yang dididik menjadi pencuri, didalam tahanan duniawi mereka pula menyusun tragedi, meniupkan gelombang prahara, lalu masuk merusak budi pekerti dan menjadikannya tradisi.
Mereka-mereka adalah anak muda yang diajak masuk pada ranting pohon tirani yang bermain dirumah rezim yang pedih.
Mereka-mereka adalah kaum peneriak bangsa merdeka untuk masa lalu dan menjadi penghancur bangsa untuk masa kini.
Mereka juga adalah korban pelampiasan kebejatan yang dipaksa tidur diatas ranjang prostitusi, perempuan muda yang diajarkan jauh dari hukum adat dan diserukan membanting idealisme dan memecahkan perawan didalam sempitnya ruang ekonomi.
Yah, mereka-mereka adalah budak-budak yang sentimentil oleh kediktatoran dan interventif zionis yang menegakkan tongkat mata satu didalam rahim bangsa Indonesia.
Pemuda-pemudi yang semestinya masuk didalam ruang persaingan logika, justru malah sibuk bersaing mengemis perhatian dari pada pemimpin yang siap untuk dipuji-puji dan tersanjung.
Mereka-mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi yang dijadikan alat ekonomi dan pusat bisnis era globalisasi. Mahasiswa-mahasiswi apatis yang tak tahu menahu persoalan bisnis dan dipancung terus-menerus oleh fragmatis dari ruang kapitalis. Mereka yang tidak memandang aliran sejarah kini angkuh pada kepentingan-kepentingan yang konyol dan membunuh. Asuhan tradisi telah menjadi lampu temaran yang remang-remang dalam jalan panjang menuju penjajahan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Most Read