body {background:$bgcolor;background-image:url(http://i46.photobucket.com/albums/f143/tamita2000/blog2-5.jpg);background-position: center; background-repeat:no-repeat; background-attachment: fixed;margin:0; color:$textcolor; font:x-small Georgia Serif; font-size/* */:/**/small; font-size: /**/small; text-align: center;
World of RADIOLOGI
Arna

Followers

Jumat, 25 April 2014

OsteoAtrithis

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penemuan sinar X oleh Wilhem Conrad Rontgen seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman telah memberikan perkembangan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya  dalam bidang kedokteran. Penggunaan sinar X dimulai oleh dr. Max Herman Knoch seorang ahli radiology berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai dokter tentara di Jakarta. Sejak saat itulah penggunaan sinar X di Indonesia terus berkembang.
Radiologi merupakan salah satu bagian dari ilmu kedokteran yang memanfaatkan penggunaan sinar X. Dimana ilmu Radiologi memiliki peranan penting dalam proses menegakkan diagnosa. Untuk menegakkan diagnosa suatu penyakit yang terletak di dalam tubuh memerlukan pemeriksaan Radiodiagnostik. Dengan pemeriksaan ini organ-organ yang berada dalam tubuh yang tidak bisa terlihat dengan mata telanjang dapat diperlihatkan melalui gambaran atau pencitraan Radiografi.
Sesuai dengan fungsinya sebagai sarana penunjang dalam menegakkan diagnosa, maka gambaran radiografi harus mempunyai kualitas yang tinggi sehingga diperlukan manajemen terhadap seluruh komponen yang terkait, yang ada dalam proses pencitraan meliputi: pasien, pengolahan, dan teknik pemeriksaan yang digunakan.
Genu atau biasa disebut Knee Joint merupakan salah satu organ yang memerlukan pemeriksaan Radiodiagnostik, karna pada Genu (Knee Joint) sering terjadi gangguan yang biasa disebut OA.

OA singkatan dari Osteoartitis merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit pada tepian sendi dan meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan,serta melemahnya otot–otot yang menghubungkan sendi.
Dengan alasan diatas maka penulis tertarik untuk mengangkatnyamenjadi sebuah laporan kasus akhir PKL I dengan judul “TEKNIK PEMERIKSAAN GENU (KNEE JOINT) PADA KASUS OSTEOATRITHIS (OA)”

Rumusan Masalah
Jelaskan anatomi fisiologi dari Genu !
Bagaimana teknik pemeriksaan genu pada kasus osteoatritis ?
Apa Bagaimana pathologi osteoatrithis ?

Tujuan
Untuk mengetahui anatomi dari knee joint (genu) serta teknik pemeriksaan genu pada kasus osteoatrithis dan mengetahui bagaimana pathologinya.

Manfaat
Sebagai penunjang dalam penyelesaian PKL I di RS. TK. II Pelamonia Makassar
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai bagaimana cara atau teknik pemotretan yang dilakukan agar memperoleh gambar Genu (Knee Joint)  yang baik.
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa Atro yang lain.
BAB II
KAJIAN TORITIS
Anatomi Fisiologi Genu ( Knee Joint )
Anatomi Fisiologi Genu (Knee Joint) terdiri dari :







(Gambar 2.1) Genu proyeksi AP










(Gambar 2.2) Genu Proyeksi Lateral
Femur
Femur merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka. Femur terdiri dari beberapa bagian diantaranya.
Pada bagian pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut caput femoris.
Di sebelah  atas dan bawah dari columna femoris  terdapat  taju yang disebut trochantor mayor dan trochantor minor.
Dibagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut condylus medialis dan condylus lateralis. Diantara kedua condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella) yang disebut dengan fosa condylus
Patella
Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang femur. Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah hanya jarak patella dengan femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon, patella juga berfungsi sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90 derajat kedudukan patella di antara kedua condylus femur dan saat extensi maka patella terletak pada permukaan anterior femur
Tibia
Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut           os maleolus medialis.
Fibula
Fibula merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya terdapat tonjolan yang disebut os maleolus lateralis atau mata kaki luar.
Patologi pada Osteoatrithis (OA)







(Gambar 2.3) perbandingan patologi genu nomal dengan genu OA

Pada osteoatrithis terdapat proses degenerasi, reparasi, dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat, lapisan rawan, sinovium, dan tulang subchondral. Pada saat penyakit aktif salah satu proses dapat dominan atau beberapa proses dapat terjadi secara bersamaan dalam tingkat intensitas yang berbeda.
Osteoatrithis lutut berhubungan dengan berbagai  defisit patofisiologi seperti instabilitas sendi lutut, menurunnya LGS, disused atrophy dari otot quadriceps, nyeri lutut sangat kuat berhubungan dengan penurunan kekuatan otot quadriceps yang merupakan stabilisator utama sendi lutut dan sekaligus berfungsi untuk melindungi struktur sendi lutut.
Pada penderita usia lanjut kekuatan quadriceps bisa menurun sepertiganya dibanding dengan kekuatan quadriceps pada kelompok usia yang sama yang tidak menderita Osteoatrithis lutut.
Perubahan yang terjadi pada sendi lutut oleh karena Osteoatrithis adalah : 
Degradasi rawan
Degradasi timbul sebagai akibat dari ketidak seimbangan antara regenerasi (reparasi) dengan degenerasi rawan sendi melalui beberapa tahap yaitu fibrilasi. Pelunakan, perpecahan, dan pengelupasan lapisan rawan sendi. Proses ini dapat berlangsung cepat atau lambat. Yang cepat dalam waktu 10 sampai 15 tahun, sedang yang lambat 20 sampai 30 tahun. Akhirnya permukaan sendi menjadi botak tanpa lapisan rawan sendi.
Osteofit
Osteofit timbulnya bersamaan dengan degenerasi rawan, timbul reparasi. Reparasi berupa pembentukan osteofit di tulang subchondral.
Sclerosis subchondral
Pada tulang subchondral terjadi reparasi berupa sclerosis pemadatan atau penguatan tulang tepat di bawah lapisan rawan yang mulai rusak.
Sinovitis
Sinovitis ialah inflamasi dari sinovium dan terjadi akibat proses sekunder degenerasi dan fragmentasi. Matrik rawan sendi yang putus terdiri dari kondrosit yang menyimpan proteoglycan yang bersifat immunogenik dan dapat mengantisipasi lekosit. Sinovitis dapat meningkatkan cairan sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam enzim akan tertekan ke dalam celah-celah rawan. Ini mempercepat proses pengerusakan rawan. Pada tahap lanjut terjadi tekanan yang tinggi dari cairan sendi terhadap permukaan sendi yang botak. Cairan ini akan didesak ke dalam celah- celah tulang subchondral dan akan menimbulkan kantong yang disebut kista subchondral.

Penyebab Osteoatritis Genu
Hal-hal yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya Osteoatrithis antara lain :
Usia
Semakin bertambahnya usia, resiko terjadinya penyakit sendi semakin besar. Pada usia tua terjadi perubahan pada rantai proteoglikan dan kandungan air pada tulang rawan. Perubahan struktur tulang rawan sendi menyebabkan perubahan vaskularisasi pada tempat tersebut sehingga aliran darah ke sendi menurun. Penurunan aliran darah ini menyebabkan proses perbaikan tulang rawan sendi menjadi lambat.
Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian, insiden Osteoatritis lutut lebih tinggi pada wanita di banding pria. Pada usia diatas 45 tahun Osteoatrithis lutut mengenai 6 persen sampai dengan 13 persen pada  laki-laki sedangkan pada wanita angka kejadiannya lebih tinggi yaitu 7 persen sampai dengan 19 persen.
Obesitas
Berat badan turut berperan dalam patogenesis dan patofisiologi Osteoatrithis lutut terutama dalam perkembangan penyakit ke derajat yang lebih tinggi. Peningkatan berat badan menyebabkan peningkatan beban yang disokong sendi. Dalam keadaan normal, gaya berat badan akan melalui medial sendi lutut dan diimbangi otot paha bagian lateral, sehingga resultan jatuh pada bagian sentral sendi lutut. Pada keadaan obesitas resultan gaya bergeser ke medial. Beban yang diterima sendi lutut menjadi tidak seimbang, sehingga lutut menjadi varus (menjauhi sumbu tubuh).

Genetik
Adanya mutasi dalam gen prokolagen II dan gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan diduga berperan dalam terjadinya Osteoatrithis lutut.
Cedera Sendi, Pekerjaan, dan Olahraga
Pekerjaan berat dengan pemakaian satu sendi secara terus menerus, seperti tukang pahat dan pemetik kapas, meningkatkan resiko terjadinya Osteoatrithis Cedera seperti robekan meniskus dan ketidakstabilan ligamen menyebabkan kerusakan pada tulang rawan sendi, sehingga beresiko terjadi Osteoatrithis.
Kesegarisan tungkai
Sudut antara femur dan tibia yang lebuh dari 180° dapat berakibat beban tumpuan yang disangga oleh sendi lutut menjadi tidak merata dan terlokalisir di salah satu sisi saja, dimana pada sisi yang beban tumpuannya lebih besar akan beresiko lebih besar terjadi kerusakan.
Faktor hormonal dan penyakit metabolic
Perubahan degeneratif pada sendi lutut bisa terjadi akibat perubahan hormonal yang terjadi pada wanita yang sudah menopause. Selain itu, seseorang yang memiliki diabetes mellitus juga bisa terkena Osteoarthritis lutut ini.
Arthritis yang berlangsung lama
Arthritis (peradangan sendi) yang sudah berlangsung lama dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pula Osteoarthritis lutut.


Tanda dan Gejala Osteoatrithis
Penderita osteoarthritis apabila sudah manifes akan memberikan tanda maupun gejala sebagai berikut :
Nyeri sendi
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Nyeri pada osteoartritis sendi lutut, biasanya mempunyai irama diurnal; nyeri akan menghebat pada waktu bangun tidur dan sore hari. Selain itu, nyeri juga dapat timbul bila banyak berjalan, naik dan turun tangga atau bergerak tiba-tiba. Nyeri yang belum lanjut biasanya akan hilang dengan istirahat, tetapi pada keadaan lanjut, nyeri akan menetap walaupun penderita sudah istirahat.
Ada tiga tempat yang dapat menjadi sumber nyeri, yaitu :
sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak.
Kerusakan pada jaringan lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi.
Peradangan pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut penerima nyeri.
Kaku Sendi
Kaku Sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah dalam keadaan inaktif.
Krepitus
Krepitus merupakan gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi. Krepitus dapat ditemukan tanpa disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan nyeri yang tumpul.
Keterbatasan lingkup gerak sendi.
Biasanya keterbatasan gerak mula - mula terlihat pada gerak fleksi kemudian dalam keadaan lanjut terjadi keterbatasan kearah ekstensi
Keterbatasan gerak ini disebabkan oleh timbulnya osteofit dan penebalan kapsuler, muscle spasme serta nyeri yang membuat pasien tidak mau melakukan gerakan secara maksimal sampai batas normal, sehingga dalam waktu tertentu mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak sendi pada lutut. Keterbatasan gerak biasannya bersifat pola kapsuler akibat kontraktur kapsul sendi. Keterbatasan pola kapsuler yang terjadi yaitu gerak fleksi lebih terbatas dari gerak ekstensi. Keterbatasan ini akibat dari :
Perubahan permukaan sendi.
Spasme dan kontraktur otot.
Kontraktur kapsul kapsul sendi.
Hambatan mekaniik oleh osteofit atau jaringan yang terlepas.
Deformitas
Deformitas yang dapat terjadi pada OA yang paling berat akan menyababkan distruksi kartilago, tulang dan jaringan lunak sekitar sendi. Terjadi deformitas varus bila terjadi kerusakan pada kopartemen medial dan kendornya ligamentum
Gangguan fungsional
Penderita sering mengalami kesulitan dalam melakukan fungsional dasar, seperti : bangkit dari posisi duduk ke berdiri, saat jongkok, berlutut, berjalan, naik turun tangga dan aktifitas yang lain yang sifatnya membebani sendi lutut.



Pada foto rontgen
Pada foto rontgen tampak adanya penyempitan ruang sendi dan pembentukan osteofit.





Gambaran Klinis atau tanda Osteoatrhitis menurut Altman (1991)
Nyeri sendi beberapa hari sampai beberapa bulan
Pada gambaran radiologis, terdapat osteofit pada tepi sendi
Cairan sendinya terdapat 2 atau 3 tanda, diantaranya; jernih, viscous atau kental, sel darah putih kurang dari 2000 mm3
Kaku sendi di pagi hari kurang dari atau sama dengan 30 menit.
Krepitasi (terdengar suara “klik”) pada saat sendi lutut digerakkan
Gambaran atau tanda Osteoarthritis menurut derajat kerusakanya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa grade :
0 ( tidak ada gambaran OA
1 ( meragukan, dengan gambaran sendi normal, terdapat osteofit             minim
2 (OA minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat          sklerosis dan kista subkondral, celah sendi baik.
3 ( OA moderat, osteofit moderat, deformitas ujung tulang, dan                          terdapat penyempitan celah sendi
4 ( OA berat, osteofit besar

Kriteria Diagnosis dan Indeks Osteoartritis Sendi Lutut
Bila pada seorang penderita hanya ditemukan nyeri lutut, maka untuk diagnosis osteoatrithis sendi lutut harus ditambah 3 kriteria dan 6 kriteria berikut yaitu :
Umur lebih dari 50 tahun.
Kaku sendi kurang dari 30 menit.
Nyeri tekan pada tulang.
Pembesaran tulang dan pada perabaan sendi lutut tidak panas.
Kriteria ini memiliki sensitifitas 95% dan spesifisitas 69%.
Bila selain nyeri lutut juga didapatkan gambaran osteofit pada foto sendi lutut, maka untuk diagnosis osteoatrithis sendi lutut dibutuhkan 1 kriteria tambahan dan 3 kriteria berikut, yaitu
Umur lebih dari 50 tahun.
Kaku sendi kurang dari 30 menit.
Krepitus.
Kriteria ini mempunyai sensitifitas 91% dan spesifisitas 86%. Selain itu dikembangkan pula index penilaian osteoatrithis. Maka bila indexnya ≥ 14, maka derajat osteoatrithisnya ekstrim berat; 11–13, sangat berat; 8–10, berat; 5–7, sedang dan 1–4, ringan.








No.Gejala atau TandaSkorINyeri selama dalam tidurTidak ada
Hanya bila bergerak atau pada posisi tertentu
Tanpa bergerak0
1
2Kaku sendi pada  pagi hari atau setelah bangkit dari berbaring0≤ 1 menit
1 – 15 menit
≥ 15 menit1
0 atau 1
Selama BerjalanTidak ada
Setelah berjalan beberapa langkah
Segera setelah berjalan dan semakin sakit0
1
2Ketika berdiri dari posisi duduk tanpa bantuan lengan0 atau 1IIJarak maksimum yang dapat ditempuh dengan berjalan atau rasa nyeri
Tidak terbatas
>1 Km tapi terbatas
Sampai denga 1 Km kira-kira 15 menit
500 – 900 M kira-kira 8 – 15 menit
300 – 500 M
100 – 300 M
< 100 M
Dengan 1 tongkat atau penyangga
Dengan 2 tongkat atau penyangga

0
1
2
3
4
5
6
1
2IIIAktifitas Sehari – hariApakah anda dapat menaiki tangga yang tegak ?
Apakah anda dapat menuruni tangga yang tegak ?
Apakah anda dapat jongkok ?
Apakah anda bias berjalan di jalan yang tidak rata0 atau 2
0 atau 2
0 atau 2
atau 2Teknik Radiografi Genu (Knee Joint)
Pada pemeriksaan Genu ada dua proyeksi rutin yaitu :
Proyeksi Anterior Posterior (AP)
Posisi Pasien
Pasien supine, jika memungkinkan pasien bisa duduk diatas meja pemeriksaan atau erect (berdiri) di depan chest stand
Pastikan tidak ada rotasi atau pergerakan pada panggul pasien.
Posisi Objek
Knee joint (genu) yang akan diperiksa diatur AP
Tempatkan knee joint di tengah-tengah kaset
Central Point
Pada pertengahan patella
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance
90-100 CM
Gambaran Radiografi








                  (Gambar 2.4) Gambaran Radiografi genu proyeksi AP
Proyeksi Lateral
Posisi Pasien
Tidur miring pada meja pemeriksaan atau berdiri miring di depan chest stand.
Posisi Objek
Lutut yang diperiksa diletakkan di atas kaset dalam posisi mediolateral.
Lutut yang tidak diperiksa disilangkan ke depan atau ke belakang lutut yang diperiksa.
Lutut difleksikan sekitar 20°-30° untuk memaksimalkan rongga persendian lutut.
Tempaktan patella di tengah-tengah kaset.
Central Point
Pada condylus medialis
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance

Gambaran Radiografi






                  (Gambar 2.5) Gambaran Radiografi genu proyeksi Lateral
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil
Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Umur : 41 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan 
No. RM : 6989
Klinis : Suspect OA Knee
Jenis Pemeriksaan : Genu Sinistra AP/Lateral
Tanggal : 4 Desember 2013

Riwayat Pasien
Seorang perempuan yang berumur 41 tahun dengan berat badan 70 Kg datang ke dokter dengan keluhan nyeri pada sendi lutut setiap kali ingin beraktifitas terutama pada saat berjalan menaiki tangga. Rasa nyeri ini sudah satu minggu dia rasakan
Untuk memastikan apakah ibu ini menderita penyakit OA akhirnya dokter memberi rujukan kepada pasien untuk segera melakukan pemeriksaan radiodiagnostik pada instalasi radiologi

Prosedur Pemeriksaan Genu pada kasus OA
Prosedur pemeriksaan Genu pada kasus OA (Osteoatrithis) meliputi persiapan pasien, persiapan alat, prosedur pemeriksaan radiografi proteksi radiasi dan pengolahan film serta kesan dan hasil diagnose dokter spesialis radiologi.
Persiapan Pasien
Memberikan penjelasan kepada pasien agar melepaskan benda-benda yang dapat mengganggu hasil radiograf.
Persiapan Alat
Pesawat sinar X Kaset ukuran 24×30





(Gambar 3.1)       (Gambar 3.2)

Marker R atau L Meja Pemeriksaan


(Gambar 3.3)
(Gambar 3.4)

Faktor Eksposi Film ukuran 24×30





(Gambar 3.5) (Gambar 3.6)

Proyeksi Pemeriksaan
Proyeksi Anterior Posterior (AP)
Posisi Pasien
Pasien supine, atau erect (berdiri) di depan chest stand. Pastikan tidak ada rotasi atau pergerakan pada panggul pasien.
Posisi Objek
Knee joint (genu) yang akan diperiksa diatur AP
Tempatkan knee joint di tengah-tengah kaset



(Gambar 3.7 dan 3.8  posisi pasien proyeksi AP )
Central Point
Pada pertengahan patella
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance
90-100 CM
Faktor Eksposi
Kv : 46 mAs : 5,0
KriteriaGambar 


(Gambar 3.9) genu proyeksi AP
Proyeksi Lateral
Posisi Pasien
Tidur miring pada meja pemeriksaan atau berdiri miring di depan chest stand.
Posisi Objek
Lutut yang diperiksa diletakkan di atas kaset dalam posisi mediolateral.
Tempaktan patella di tengah-tengah kaset.



(Gambar 3.10 dan 3.11  posisi pasien proyeksi Lateral )
Central Point
Pada condylus medialis
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance
90 – 100 CM
Faktor Eksposi
Kv : 46 mAs : 5.0
Kriteria Gambar

(Gambar  3.12) genu lateral 

Proteksi Radiasi
Membatasi luas lapangan penyinaran (kolimasi), menggunakan faktor eksposi yang tepat dan memposisikan pasien dengan tepat agar tidak terjadi pengulangan foto, serta menggunakan apron.
Pengolahan Film
Pengolahan Film pada RS. TK. II Pelamonia yaitu pengolahan secara automatic processing (proses film secara otomatis). Pengolahan film secara otomatis pada dasarnya sama dengan pengolahan film manual, namun pada pengolahan film secara otomatis tidak ada tahapan rinsing, karna sudah digantikan oleh roller. Tahapan yang ada pada automatic processing yaitu :
Developing     Fixing             Washing             Drying

Hasil Expertise Dokter Radiologi
(dr. Pangeran Indal Patra Abbas Sp.Rad M.Kes)
Subcondral Sklerotic
Penyempitan celah sendi
Osteoatrithis pada condylus
   Femur, Tibia dan Os Patella






Kesan :
Osteoatrithis (OA) Genu Sinistra
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Proyeksi yang digunakan pada pemeriksaan genu untuk kasus Osteoatrithis di RS. TK. II Pelamonia yaitu proyeksi Antero Posterior (AP) dan lateral.
Osteoartitis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit pada tepian sendi dan meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan,serta melemahnya otot–otot yang menghubungkan sendi.

Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan-keterangan yang lebih mendetail tentang materi-materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah yang ditulis oleh penulis.
Penyusunan laporan ini diharapkan dapat dijadikan motivasi bagi para pembaca ,khususnya bagi penulis untuk lebih giat dalam mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan dibidang radiologi.



DAFTAR PUSTAKA

Third edition Radiologi:Medical Mini Note Production, FKG Unhas;2013
http://masyarakatpiolayanan.wordpress.com/2012/08/osteoatrithis-nyeri-sendi.html
http://ayoncrayon5.blogspot.com/2012/11/osteoarthritis.html
http://rohman-nugroho.blogspot.com/2012/09/bab-i-pendahuluan-a.html
http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/09/proyeksi-ap-dan-lateral-pada-lutut.html
http://ajunkdoank.wordpress.com/2008/12/25/definisi-dan-patologi-oa.html
http://id.m.wikipedia.org/wiki/oa
http://himapspdfkunlam.blogspot.com/2011/12/oa.html







DOKUMENTASI









































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Most Read