body {background:$bgcolor;background-image:url(http://i46.photobucket.com/albums/f143/tamita2000/blog2-5.jpg);background-position: center; background-repeat:no-repeat; background-attachment: fixed;margin:0; color:$textcolor; font:x-small Georgia Serif; font-size/* */:/**/small; font-size: /**/small; text-align: center;
World of RADIOLOGI
Arna

Followers

Kamis, 20 November 2014

Pengaruh Budaya terhadap Kesehatan

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik perubahan dalam hal pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan dan sering berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang tinggal atau menetap pada tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat sangat berperan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi – tingginya, perkembangan sosial budaya ini merupakan tanda bahwa masyarakat tersebut telah mengalami perubahan dalam proses berfikir.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangat erat karna kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respon terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Oleh karna itu saya sebagai salah satu bagian dari tenaga kesehatan harus mampu membuat masyarakat mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana pula cara penanganannya.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan kesehatan dan Budaya ?
Bagaimana pengaruh kebudayaan terhadap bidang kesehatan ?
Bagaimana perubahan budaya mempengaruhi kesehatan ?



Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kesehatan dan Budaya.
Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebudayaan terhadap bidang kesehatan.
Untuk mengetahui Bagaimana perubahan budaya mempengaruhi kesehatan

Manfaat Penulisan
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai bagaimana pengaruh kebudayaan dan lingkungan terhadap bidang kesehatan
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa Atro yang lain.














BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Kesehatan dan Budaya
Pengertian Kesehatan
Menurut UU No.23 1992
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut WHO (World Health Organisation)
Kesehatan adalah keadaan yang sempurna dari fisik, mental dan sosial serta tidak cacat dan bebas dari penyakit.
Menurut Perkins (1938)
Sehat adalah keadaan yang seimbang dan dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Menurut MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Kesehatan adalah sebagai ketahanan jasmani, ruhaniyah, dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunanNya dan memelihara serta mengembangkannya.
Menurut White (1977)
Kesehatan adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan apapun ataupun tidak terdapat tanda – tanda suatu penyakit dan kelainan.
Menurut Neuman (1982)
Sehat adalah suatu keseimbangan biopsiko sosio culture dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten.

Pengertian Budaya
Menurut Croydon (1973 : 4)
Budaya adalah suatu system pola terpadu yang sebagian besar berada di bawah ambang batas kesadaran namun semua yang mengatur perilaku manusia seperti senar dimanipulasi dari control boneka gerakannya.
Nostrand (1989 : 51)
Budaya merupakan sikap dan kepercayaan cara berfikir, berperilaku, dan mengingat bersama oleh anggota komunitas.
Richard Brisling (1990 : 11)
Kebudayaan sebagai mengacu pada cita – cita bersama secara luas nilai pembentukan dan penggunaan kategori asumsi tentang kehidupan dan kegiatan goal directed yang menjadi sadar tidak sadar diterima sebagai “banar” dan “benar” oleh orang – orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota masyarakat.
Raymond Williams (1961 : 16)
Budaya adalah seluruh kehidupan materi intelektual dan spiritual.
Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berprilaku baik secara individu maupun kelompok.
Dr. Moh. Hatta
Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
Sutan Takdir Alisyahbana
Kebudayaan merupakan manifestasi dari cara berfikir.

Pengaruh Kebudayaan Terhadap Bidang Kesehatan
Kebudayaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan ilmu kesehatan diantarnya :
Pengaruh Tradisi
Pengaruh tradisi adalah pengaruh yang telah lama dilakukan dan sudah menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat. Ada beberapa tradisi di dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat.
Misalnya Seorang ibu yang baru saja melahirkan mendapat pantangan untuk memakan telur, daging, dan sebagainya. Ibu tersebut hanya diperbolehkan memakan nasi dan garam serta kecap saja dengan alasan gatal – gatal dan alasan lain, hal ini sudah dilakukan turun temurun dan membudaya di lingkungan masyarakat tersebut. Seharusnya adalah ibu yang baru melahirkan memakan makanan bergizi agar mempercepat proses penyembuhan jaringan dalam tubuh ibu tersebut. Karna hal tersebut sudah merupakan kebiasaan pada msyarakat setempat sehingga ibu yang melahirkan melaksanakan anjuran tersebut.

Pengaruh Fatalistis
Pengaruh fatalistis adalah pengaruh yang mampu membuat seseorang  bersikap putus asa apabila menghadapi suatu masalah Sikap fatalistis ini juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contonya : beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik) yang beraga islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya.

Sikap Etnosentris
Sikap etnosentris adalah sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain. Masyarakat tentu memiliki budaya dan ilmu kesehatan juga memiliki budaya.
Misalnya : pada masyarakat tertentu seorang anak yang sedang luka dilarang memakan telur karna alasan telur dapat membuat luka tersebut infeksi gatal – gatal dan lama sembuh, itu adalah budaya yang salah dan tidak sesuai dengan budaya kesehatan yang mengharuskan anak tersebut memakan telur agar mempercepat penyembuhan jaringan.

Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Pengaruh perasaan bangga pada statusnya misalnya dalam upaya perbaikan gizi disuatu daerah pedesaan tertentu menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat beranggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing dan mereka menolaknya karna status mereka tidak dapat disamakan dengan kambing.

Pengaruh Norma
Contonya dalam hal upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karna ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan ibu hamil sebagai pengguna pelayanan.



Pengaruh Nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Contonya : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih daripada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi diberas daripada beras putih.

Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya manusia biasa makan nasi sejak kecil akan sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa.

Perubahan Budaya Mempengaruhi Kesehatan
Ada tiga alur tingkatan pengaruh budaya terhadap kesehatan. Pengaruh ini dari urutan atas ke bawah menunjukkan peningkatan kompleksitas dan pengaruhnya bersifat semakin tidak langsung pada kesehatan.
Pada alur paling atas terlihat bagaimana perubahan pada kondisi mendasar lingkungan fisik contonya : suhu ekstrim atau tingkat radiasi ultraviolet yang dapat mempengaruhi biologi manusia dan kesehatan secara langsung. Misalnya sejenis kanker kulit.
Alur dua tingkatan lain yaitu ditengah dan bawah mengilustrasikan proses – proses dengan kompleksitas lebih tinggi termasuk hubungan antara kondisi lingkungan fungsi – fungsi ekosistem dan kodisi sosial ekonomi.

Alur tengah dan bawah menunjukkan tidak mudahnya menemukan korelasi langsung antara perubahan lingkungan dan kondisi kesehatan. Akan tetapi dapat ditarik benang merah bahwa perubahan – perubahan lingkungan ini secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab atas faktor – faktor penyangga utama kesehatan dan kehidupan manusia, seperti :
Produksi bahan makanan
Air bersih
Kondisi iklim
Keamanan fisik
Kesejahteraan manusia dan jaminan keselamatan serta kualitas sosial
Para praktisi kesehatan dan lingkungan pun akan menemukan banyak domain permasalahan baru, menambah deretan permasalahan pemunculan toksi ekologi lokal, sirkulasi lokal penyebab infeksi sampai kepengaruh lingkungan dalam skala besar yang bekerja pada gangguan kondisi ekologi dan proses penyangga kehidupan ini. Jelaslah bahwa resiko terbesar dari dampak perubahan budaya atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya.








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut UU No.23 1992 Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut Dr. Moh. Hatta Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
Pengaruh Kebudayaan Terhadap Bidang Kesehatan dipengaruhi oleh :
Pengaruh Tradisi dan Pengaruh Fatalistis
Sikap Etnosentris
Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Pengaruh nilai dan Pengaruh norma
Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
Resiko terbesar dari dampak perubahan budaya atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya.

Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan-keterangan yang lebih mendetail tentang materi-materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah yang ditulis oleh penulis.
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan motivasi bagi para pembaca ,khususnya bagi penulis untuk lebih giat dalam mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan dibidang radiologi.

DAFTAR PUSTAKA

http://sitirohmie.blogspot.com/2013/04/makalah-pengaruh-sosial-budaya.html
http://kesehatankeluarga.net/pengaruh-taraf-budaya-terhadap-kesehatan-198.html
http://kesehatankeluarga.net/pengaruh-kemajuan-pengetahuan-terhadap-kesehatan-202.html
http://cowkerf11.blogspot.com/2014/01/contoh-makalah-konsep-dasar-kesehatan.html
http://www.bascommetro.com/2009/04/pengaruh-budaya-terhadap-kesehatan.html
http://kesehatankeluarga.net/bagaimana-pengaruh-lingkungan-terhadap-kesehatan-128.html



Efektifitas dan Efisiensi Pelayanan Radiologi

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah kini terus menerus dan berupaya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan baik yang bersifat promotif preventif, kuratif dan rehabilitasi. Peran tersebut semakin dituntut akibat adanya perubahan yang terjadi pada epidemiologik penyakit, perubahan struktur organisasi, perubahan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan perubahan pada sosial ekonomi masyarakat.
Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk dapat memperoleh kepuasan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan pada rumah sakit melalui pelayanan prima serta rumah sakit diharapkan mampu menghasilkan keunggulan kompetitif dengan pelayanan bermutu, efektif, efisien dan inovatif. sehingga tidak lagi terdengar adanya keluhan dari pihak pemakai layanan kesehatan yang biasanya menjadi sasaran ialah sikap dari tindakan dokter atau perawat, sikap petugas administrasi serta sarana dan prasarana yang kurang memadai, kelambatan pelayanan kesehatan serta kurangnya persediaan obat.
Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana efektifitas dan efisiensi pelaksanaan pelayanan kesehatan khususnya pada instalasi radiologi di rumah sakit H.Padjonga daeng ngalle Kabupaten Takalar.


Rumusan Masalah
Apakah defenisi dari efektifitas dan efisiensi ?
Bagaimanakah efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi pada rumah sakit secara umum ?
Bagaimanakah efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi pada rumah sakit H.Padjonga daeng ngalle Kabupaten Takalar.

Manfaat dan Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui defenisi dari efektifitas dan efisiensi
Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi secara umum
Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pelaksanaan radiologi pada rumah sakit H.Padjonga daeng ngalle Kabupaten Takalar.









BAB II
PEMBAHASAN

Defenisi Efektifitas dan Efisiensi
Pengertian efektifitas secara umum merupakan tingkat pemenuhan output atau tujuan proses. Semakin tinggi pencapaian target atau tujuan proses maka dikatakan proses tersebut semakin efektif. Proses yang efektif ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih baik dan lebih aman.
Pengertian efektifitas menurut beberapa ahli :
Hidayat (1986)
“Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas, dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi pula efektifitasnya”.
Schemerhon John R. Jr. (1986:35)
“Efektiitas adalah pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran (OA) atau seharusnya dengan output realisasi atau sesungguhnya (OS). Jika (OA) lebih besar dari (OS) maka disebut efektif”.
Prasetyo Budi saksosno (1984)
“Efektifitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai dengan output yang diharapkan dari sejumlah input”.
Pengertian efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber daya dalam suatu proses. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber daya maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses efisien ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih murah dan lebih cepat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa efektifitas lebih mengarah pada hasil yang akan dicapai sedangkan efisiensi mengarah pada proses pencapaian hasil tersebut.
Efektifitas dan Efisiensi Pelaksanaan Radiologi pada Rumah Sakit
Standar Pelayanan Radiologi Diangnostik sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.1014/Menkes/SK/XI/2008
Manajemen dan Administrasi
Struktur Organisasi
Dalam setiap instalasi pelayanan radiologi diagnostik ada struktur organisasi yang mengatur jalur komando dan jalur koordinasi dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pelayanan radiologi diagnostik. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam upaya manajemen pelayanan radiologi diagnostik.
Komponen yang ada dalam struktur organisasi adalah :
Kepala Instalasi atau Unit Radiologi Diagnostik
Kepala Pelayanan Radiologi Diagnostik
Staf Fungsional
Dalam melaksanakan tugasnya kepala instalasi dapat dibantu oleh coordinator yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan tanpa meninggalkan unsur efiensi dan efektifitas.
Tata Administrasi
Sistem administrasi pelayanan radiologi diagnostik meliputi :
Loket penerimaan pasien
Ruang Diagnostik
Pembacaan hasil roentgen
Penyimpanan hasil roentgen
Loket pengambilan hasil

Pelayanan Radiologi Diagnostik
Perizinan
Setiap sarana pelayanan kesehatan jika menyelenggarakan pelayanan radiologi diagnostik harus mempunyai izin pelayanan dari Departemen Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota sesuai peraturan yang berlaku.
Setiap peralatan yang menggunakan radiasi pengion harus mempunyai izin pemanfaatan alat dari BAPETEN.
Peralatan yang dicabut izin penggunaannya oleh BAPETEN tidak dapat digunakan untuk pelayanan radiologi diagnostik.
Penambahan alat baru yang menyebabkan perubahan denah ruangan, harus diberitahukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan melampirkan :
Fotokopi legalisir asli izin penggunaan alat dari BAPETEN beserta dokumen penyertanya.
Fotokopi legalisir asli izin edar peralatan kesehatan dari Departemen Kesehatan.
Sarana pelayanan kesehatan yang mengalami perubahan nama dan kepemilikan, pindah lokasi harus mengganti izin pelayanan.
Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia pada pelayanan radiologi diagnostik :
Dokter Spesialis Radiologi
Radiografer
Fisikawan Medik
Tenaga Teknis Elektromedik
Petugas Proteksi Radiasi
Perawat
Tenaga Ilmu Teknologi
Tenaga Kamar Gelap dan administrasi
Jenis dan jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam instalasi radiologi diagnostik digolongkan berdasarkan :




































Ruang Lingkup Radiologi Diagnostik
Pelayanan Radiodiagnostik
Pelayanan Radiodiagnostik adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi pengion, seperti X – ray konvensional maupun X – Ra Mobile, Computed Tomography Scan (CT Scan), dan mammografi.
Pelayanan Imejing Diagnostik
Pelayanan imejing diagnostik adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dengan menggunakan radiasi non pengion antara lain pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan USG.
Pelayanan Radiologi Intervensional
Pelayanan radiologi intervensional adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis dan terapi intervensi dengan menggunakan peralatan radiologiseperti Angiografi. Pelayanan ini menggunakan radiasi pengion maupun non pengion.












Efektifitas dan Efisiensi Pelaksanaan Pelayanan Radiologi pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Kabupaten Takalar
Rumah Sakit Umum Daerah H.Padjonga Daeng Ngalle adalah Rumah Sakit Umum Daerah Type C yang terletak di pusat kota Takalar yang beralamatkan di JL. Ince Husain Dg. Parani Takalar. Di dirikan pada Tahun 1981 . Rumah Sakit Umum Daerah Haji Padjonga Daeng Ngalle bertanggung Jawab langsung kepada Kepala Daerah TK II Kab. Takalar. Pada Tanggal 21 Agustus 2003 berubah Status dari Type D Ke Type C, dengan SK MenKes RI No. 119/MenKes/SK/XIII. 2003.
Visi Rumah Sakit Umum Daerah H.Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Terwujudnya pelayanan prima dengan sistem terpadu menuju pengembangan RSUD Takalar sebagai pusat rujukan selatan selatan.
Misi Rumah Sakit Umum Daerah H.Padjonga Dg. Ngalle Takalar
Memberikan pelayanan kesehatan dasar, spesialistik, subspesialistik yang bermutu tinggi dan terjangkau.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui sistem pendidikan berkelanjutan.
Menjadikan RSUD Haji Padjonga Daeng Ngalle sebagai rumah sakit yang bersih, indah dan ramah lingkungan di Propinsi Sulawesi Selatan.
Pengadaan sarana dan prasarana yang memenuhi standar pelayanan untuk menunjang pelayanan kesehatan yang prima.






Struktur Organisasi pada Instalasi Radiologi

Kepala Instalasi Radiologi

Kepala Ruangan Radiologi

Staf Fungsional    











Tata Administrasi
Proses Penerimaan Pasien
Pasien datang ke radiologi membawa surat pengantar dari dokter untuk dilakukan tindakan radiologi diagnostik.
Petugas radiologi mencatat nama pasien tersebut ke dalam buku register kemudian pasien diberikan nomor foto atau no urut identitas film pasien.
Proses Pemeriksaan Pasien
Setelah proses administrasi selesai pasien diarahkan ke ruangan pemeriksaan.
Petugas radiologi memanggil pasien sesuai dengan no urut foto pasien ke dalam ruang pemeriksaan kemudian radiografer melakukan tindakan radiodiagnostik.
Setelah dilakukan tindakan radiologi diagnostik maka pasien diarahkan ke ruangan tunggu sementara radiografer melakukan proses pencucian film di kamar gelap.
Setelah proses pencucian selesai foto tersebut di bawa ke ruangan dokter spesialis radiologi untuk dibaca dan hasil baca dokter dimasukkan ke dalam amplop yang berisi foto pasien.
Proses Pembuatan Laporan
Rangkapan hasil baca dokter disimpan oleh petugas radiologi sebagai arsip.
Radiologi membuat laporan jumlah pasien yang datang ke radiologi setiap bulannya berdasarkan buku register pasien kemudian laporan tersebut diserahkan ke tata usaha medis.

Sumber Daya Manusia
Pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Takalar sumber daya manusia yang tersedia yaitu :
Dokter Spesialis Radiologi sebanyak dua orang
Radiografer sebanyak 12 Orang
Tenaga Elektro Medik sebanyak 2 orang

Ruang Lingkup Radiologi Diagnostik
Ketersedian Alat radiologi diagnostik
Pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Takalar memiliki alat sebanyak empat buah yang terdiri dari :
1 buah pesawat sinar X mobile
2 buah pesawat sinar X konvensional
1 buah automatic processing
1 buah pesawat Ultrasonografi (USG)
Tindakan Pelayanan
Pada Rumah Sakit H.Padjonga Daeng Ngalle Takalar melakukan tindakan radiologi diagnostik atau foto roentgen pada :
Pemeriksaan pada tulang eksremitas atas dan bawah
Pemeriksaan kontras
BNO IVP
Myelografi
Histerosalpinografi
Uretrocistografi
Colon In Loop
Oesofagografi
MaagDuodenum
Angiografi
UltraSonografi (USG)
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pengertian efektifitas secara umum merupakan tingkat pemenuhan output atau tujuan proses. Semakin tinggi pencapaian target atau tujuan proses maka dikatakan proses tersebut semakin efektif. Proses yang efektif ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih baik dan lebih aman.
Pengertian efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber daya dalam suatu proses. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber daya maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses efisien ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih murah dan lebih cepat.
Efektifitas dan Efisiensi Pelaksanaan Radiologi pada Rumah Sakit harus sesuai dengan standar Pelayanan Radiologi Diangnostik sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No.1014/Menkes/SK/XI/2008 :
Manajemen dan Administrasi
Pelayanan Radiologi Diagnostik
Pelayanan kesehatan pada instalasi radiologi di rumah sakit H.Padjonga Daeng ngalle Kabupaten Takalar sudah efektif dan efisien karna prosedur pelayanannya serta sarana dan prasarana yang dimiliki pada rumah sakit tersebut sudah memenuhi standar sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan  No. 1014 / Menkes /sk /XI /2008

Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan-keterangan yang lebih mendetail tentang materi-materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah yang ditulis oleh penulis.
Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan motivasi bagi para pembaca ,khususnya bagi penulis untuk lebih giat dalam mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan dibidang radiologi.













DAFTAR PUSTAKA

http://jilndage.blogspot.com/2012/01/definisipengertian- efektifitas.html?m=1
http://datastudi.wordpress.com/2008/07/12efektivitas-pelayanan-kesehatan-pada-rumah-sakit-umum/
http://contohdanfungsi.blogspot.com/2013/10/pengertian-efisien-dan-efektifitas.html?m=1
http://radiologi-xl.blogspot.com/2009/10/iii-pelayanan-radiologi-diagnostik.html?m=1
http://dansite.wordpress.com/2009/03/28/pengertian-efektifitas/
http://muzayyinahns.blogspot.com/2012/11/pengertian-efektifitas-danefisien.html?m=1



Rabu, 19 November 2014

Ercp

ANATOMI DAN FISIOLOGI
ANATOMI
KANDUNG EMPEDU









Gambar 1
Anatomi Kandung Empedu

Kandung empedu adalah sebuah kantong berbentuk terong dan merupakan membran berotot. Letaknya di bagian inferior hepar pada lobus dextra bersebelahan dengan lobus quadratus.umumnya mempunyai panjang 8-12 cm, dan dapat berisi ± 60 cc.kandung empedu terdiri dari :
1. Fundus
2. Corpus
3. Collum
Kandung empedu terdiri dari tiga pembungkus yaitu, lapisan paling luar atau serosa peritoneal, lapisan kedua berupa jaringan berotot tak bergaris, lapisan paling dalam merupakan membrane mukosa.kandung empedu mempunyai beberapa ductus yaitu ductus sistikus, ductus coledhocus, ductus hepaticus comunis yang merupakan pertemuan dari ductus hepaticus sinistra dan dextra.
PANKREAS

Gambar 2
Anatomi pancreas

Pankreas adalah organ pada  sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama:  menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting.
Pankreas terletak di bagian belakang rongga perut bagian atas, dan terbentang horizontal  dari usus halus Ke organ limfa.
Panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 2,5 cm. Pankreas berfungsi sebagai organ endokrin dan eksokrin. Fungsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau Langerhans.

FISIOLOGI
KANDUNG EMPEDU
Fungsi kandung empedu tempat penyimpanan dan pemekatan getah empedu yang dihasilkan oleh hati, kotraksi kandung empedu dan relaksasi dari sphincter Oddi di ketengahi oleh hormon Cholecyctokinin yang di sebabkan oleh dinding duodenum sebagai reaksi dari lemak intramural dan asam amino. Getah empedu dikelurkan 500-1000 cc/hari,sekresinya berjalan terus-menerus dan dipercepat pada saat pencernaan lemak. Kandung empedu mempunyai dua fungsi yaitu fungsi kholeretik yang menyebabkan sekresi empedu bertambah dan fungsi kholagogi yang menyebabkan kandung empedu mengosongkan diri.
PANKREAS
Pankreas merupakan kelenjar eksokrin (pencernaan) sekaligus kelenjar endokrin.
Fungsi endokrin
Sel pankreas yang memproduksi hormon disebut sel pulau Langerhans, yang terdiri dari sel alfa yang memproduksi glukagon dan sel beta yang memproduksi insulin.
Fungsi eksokrin
Kelenjar eksokrin pada paankreas disebut acini,  yang menghasilkan enzim yang terlibat pada proses pencernaan ketiga jenis molekul kompleks makanan.

INDIKASI
Pankreatitis Akut
Pankreatitis Kronis
Kista Pankreas
Tumor Pankreas
Perubahan Kantung Empedu
Batu dan Polip
Tumor Kandung Empedu
Kelainan Kantung Empedu yang Jarang (Kista saluran empedu, Sindroma Caroli)
Perubahan Kantung Empedu
Kolangitis Arborisasi Intrahepatik pada perubahan Hepar yang primer (Hepatomegali,   Sirosis Hepatis, Tumor dan Metastase)
C. KONTRA INDIKASI
Sensitif kontras media
Pankreatitis Akut yang membentuk abses.
Kista pancreas.

D. PROSEDUR PEMERIKSAAN
PENGERTIAN ERCP
Endoskopi adalah suatu alat yang digunakan untuk memeriksa organ dalam tubuh manusia. Dapat secara visual dengan mengintip menggunakan alat tersebut (rigid/fiber-skop) atau langsung melihat pada layar monitor (skop evis), sehingga kelainan yang ada pada organ tersebut dapat dilihat dengan jelas (Agus Priyanto, 2009, hlm. 13)
Salah satu peralatan endoskopi medical adalah fiberskop di mana bagian dari alat yang masuk kedalam organ bagian dalam tubuh (saluran cerna) berbentuk pipa yang lentur (fleksibel) dan di dalamnya terdapat serat-serat optic yang berfungsi sebagai pemungut gambar serta pembawa cahaya. (Agus Priyanto, 2009, hlm. 13)
Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan penunjang yang memakai alat endoskopi untuk mendiagnosis kelainan-kelainan organ di dalam tubuh antara lain saluran cerna, saluran perkemihan, rongga mulut, rongga abdomen, dan lain-lain
Tindakan Endoskopi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.      Gastroskopi
2.      Kolonoskopi
3.      ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography)
Yang dibahas dalam makalah ini adalah tindakan ERCP
ERCP (endoscopoc retrograde cholangiopancreatography) adalah pemeriksaan di tunjukan untuk fisualisasi dengan bahan kontras secara retrograde dan mengetahui langsung saluran empedu eferen dan duktus pankreatikus dengan memakai suatu duodenoskop dan mempunyai pandangan samping (G.Pott, 1995, hlm. 3).
ERCP merupakan suatu perpaduan antara pemeriksaan endoskopi dan radiologi untuk mendapatkan anatomi dari sistim traktus biliaris (kolangiogram) dan sekaligus duktus pankreas (pankreatogram).
ERCP suatu cara pemeriksaan infasif, yang hanya dilakukan apabila ada indikasi positif yang kuat. Biasanya merupakan langkah terakhir dari suatu seri pemeriksaan dan dipakai untuk deteksi atau diferensisi suatu penyakit saluran empedu atau pancreas setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan telah dilengkapi dengan pemeriksaan laboratories, sonografis, serta radiologis.

PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
Fiber optic endoscope, yakni satu bendel glass fibre disatukan dan xenon light illuminator. Ditengah alat ini ada saluran untuk masuk kateter untuk memasukan kontras media
Pemeriksaan dilalukan dengan bantuan fluoroscopy dan TV monitor
Pesawat roentgen yang dilengakapi florouskopi.
Endoskopik tube.
Wire guide.
Kaset ukuran 24x30 cm.
Film Rontgen ukuran 24x30 cm.
Apron
Gonad shield
Obat dan peralatan emergensi

Persiapan Bahan Kontras
Untuk saluran pankreas, Meglumine diatrizoate 65% (Angiografin) karena kontras media seharusnya memiliki kandungan Iodine yang tinggi dan rendah keracunan. Garam Meglumine digunakan sebagai pencampuran Garam Sodium sebagai karena sakit ketika bahan kontras disuntikkan dan mungkin karena pasien tersebut menderita pankreatitis.
Untuk Saluran Empedu, Meglumine iothalamate 60% (Conray 280) karena bahan media kontras tersebut diharuskan tidak terlalu hitam atau dengan kata lain opasitas kecil, seperti pada contoh yang disebabkan oleh papilloma atau radiolucent calculi empedu, harus digelapkan.

PERSIAPAN PASIEN
Tanyakan apakah pasien hamil atau tidak.
Tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat asma atau tidak.
Pasien diminta menginformasikan tentang obat-obatan yang dikonsumsi.
Pemeriksaan darah lengkap dilakukan 1-2 hari sebelumnya.
Pasien puasa 5-6 jam sebelum pemeriksaan dimulai.
Bila diperlukan, pasien dapat diberikan antibiotik.
Penandatanganan informed consent (IC).
Plain foto abdomen.
Premidikasi ameltocaine lozenge 30 mg.
Media kontras :
untuk Pancreatic Duct Angiografin 65% 
untuk Billiary Duct diberikan Conray 280.

TEKNIK PEMERIKSAAN
Pasien disedasi atau dianesthesi.
Pasien miring di sisi kiri pada meja pemeriksaan.
Endoskop dimasukan melalui mulut,turun ke esofagus, kemudian gaster,melalui pylorus, dan masuk ke dalam duodenum dimana terdapat Ampulla of  Vater (pembukaan common bile duct dan pancreatic duct) dan Sphincter of Oddi  adalah muscular valve yang mengatur pembukaan ampulla.
Kemudian sebuah cannula atau catheter dimasukan melalui ampulla, dan zat radio kontras disuntikkan ke dalam duktus biliaris dan duktus pankreatikus.
Endoskopi diposisikan pada bagian tengah duodenum dan papilla vateri.
Poly kateter diisi media kontras (berada di pertengahan endoskopi).
Dibuat spot foto dipandu dengan fluoroscopy.






Gambar 3
Gambar alat Duodenoskop








Gambar4 A: Normal biliary and pancreatic ducts during an ERCP, B: ERCP image

HASIL RADIOGRAFI


Gambar 1.2
Ket :

Gambar 5
Pankreatogram Retrograd Normal

Keterangan Gambar :
Duktus santorimi tidak berkembang. Dapat di lihat processus unsinatus dan mempunyai ciri-ciri tersendiri (panah).
Duktus wirsungianus berjalan agak ke cranial. Pada kauda terlihat percabangan perifer yang baik.






Gambar 6
Karsinoma korpus pancreas

Keterangan gambar :
Diagnosis : Karsinoma korpus pancreas
Klinis : seorang wanita berusia 68 thn dengan penurunan berat badan, dan keluhan abdomen bagian atas . Dari pemeriksaan sonografi, terdapat kecurigaan adanya proses desak ruang di daerah korpus pancreas.
ERCP : Sumbatan total duktus di sebelah proksimal korpus dan tidak ada tanda-tanda pancreatitis koronis.
Komentar : Dapat dipertimbangkan terapi pembedahan karena keadaan umum  baik dan tidak terdapat penekanan pada saluran empedu eferen. 




Gambar 7
Tumor

Keterangan gambar :
Diagnosis : karsinoma Intraluminal saluran empedu
Klinis : seorang wanita berusia 66 thn dengan nyeri abdomen merata yang akut pada kwadran kanan atas dan ikterus yang progresif.
ERCP : Kelainan letak dan bendungan salran empedu secara endoskopik transpapilier (stenting) untuk paliatif.

POST TINDAKAN
Memindahkan pasien dari meja radiologi ke tempat tidur pasien
Mengobservasi tanda-tanda vital, muntah dan tingkat kesadaran
Serah terima pasien kepada perawat ruangan setelah keadaan umum pasien memungkinkan
Menyampaikan program dokter kepada perawat ruangan
Pasien dipuasakan 4 jam pertama setelah tindakan ERCP
Membersihkan dan membereskan alat.

PERAWATAN POST PROSEDUR 
Pasien dimonitor hingga efek dari obat-obatan hilang.
Setelah pemeriksaan : pasien mungkin akan mengalami perasaan tidak nyaman pada tenggorokan, kembung & nausea (udara yg masuk).
Komplikasi yg mungkin muncul : pancreatitis, perforasi, pendarahan ataupun reaksi alergi akibat sedative.
Informasikan pada pasien untuk melaporkan apabila muncul fever, nyeri yang hebat ataupun pendarahan.














KESIMPULAN
ERCP (endoscopoc retrograde cholangiopancreatography) adalah pemeriksaan di tunjukan untuk fisualisasi dengan bahan kontras secara retrograde dan mengetahui langsung saluran empedu eferen dan duktus pankreatikus dengan memakai suatu duodenoskop dan mempunyai pandangan samping
Pemeriksaan ERCP  dapat dilakukan pada tahap terakhir setelah pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan telah dilengkapi dengan pemeriksaan laboratories, sonografis serta radiologis. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan utuk melihan kelainan yang ada pada kandung empedu, pasien yang terserang penyakit ini biasanya merasakan nyeri pada bagian kanan atas perut itu akibat dari saluran empedu yang tersumbat karena adanya batu atau terjadi infeksi. Rasa nyeri itu biasanya timbul perlahan hingga sampai pada puncaknya dan kembali hilang perlahan, rasa nyeri itu timbul hanya beberapa jam saja.
Media kontra yang digunakan : untuk Pancreatic Duct Angiografin 65%  dan untuk Billiary Duct diberikan Conray 280










DAFTAR PUSTAKA
Artawijaya Ajung, 2012. Teknik Radiografi Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP) (online) http://catatanradiograf.blogspot.com/2010/08/teknik-radiografi-endoscopic-retrograde.html. diakses tahun 2012
G.pott, B.Schameyer,dkk, 1995. ERCP-ATLAS.jakarta : penerbit buku kedokteran
latifin khoirul, 2011. Anatomi fisiologi pancreas,(online) http://khoiiirul.blogspot.com/2014/02/anatomi-fisiologi-pankreas.html. diakses tgl  26 februari 2014
Manaluboyalex, 2014. Seputar dunia radiologi, (online) http://setanmantul.blogspot.com/2014/01/ercp-endoscopicretrograde-colangio.html. diakses tgl 15 januari 2014
Tanzemarie, 2013. Tindakan endoskopi,(online) http://dokumenlon.blogspot.com/2013/06/tindakan-endoskopi.html. diakses tgl 15 juni 2013




Plebografi

PLEBOGRAFI
Anatomi














Pembuluh darah merupakan salah satu system peredaran di dalam tubuh manusia. Pembuluh darah terdiri atas tiga bagian yaitu pembuluh darah arteri, vena dan kapiler. Pembuluh darah vena berfungsi mengantarkan darah ke jantung. Dinding pembuluh darah terdiri tiga lapisan yaitu lapisan terluar terdiri atas jaringan ikat yang fibrus yang disebut tunika advesia, lapisan tengah berotot tipis, kurang kuat, lebih mudah kempis dan kurang elastic dibandingkan dengan arteri, dan lapisan paling dalam yang endothelial disebut tunika intima.

Untuk pemeriksaan plebografi harus mengetahui sistem peredaran darah pada extrimitas inferior, yaitu pembuluh darah apa saja yang melewatinya dan kearah mana pembuluh darah tersebut berjalan.  Terdapat dua macam pembuluh darah, yaitu :

Pembuluh darah Arteri
Dimulai dari Arteri Femoralis yang berjalan melintasi sisi medial paha dan disepertiga bawah paha berjalan dibelakang sendi lutut, dimana menjadi Arteri Poplitea. Kemudian bercabang lagi menjadi dua arteri utama untuk melayani extrimitas inferior.
Arteri Tibialis Anterior terletak disebelah bagian anterior otot betis, dan berjalan melintasi lekukan pergelangan kaki menjadi arteri Dorsalis Pedis. Arteri ini melayani stuktur pada sebelah dorsal kaki dan memberi cabang kepermukaan dorsal semua jari kaki. Arteri-arteri ini dapat diraba, ditengah-tengah antara maleolus lateral dan medial, didepan sendi pergelangan kaki dalam kedudukan dorsofleksi.
Cabang kedua dari Arteria Poplitea ialah Arteri Tibialis Posterior, yang berjalan kebawah dibelakang Tibia, terletak disebelah dalam otot tungkai bawah. Arteri ini masuk kedalam telapak kaki melalui sebelah belakang Maleolus dibawah jaringan retikulum pergelangan kaki. Kemudian bercabang menjadi Arteri Plantaris Medial untuk melayani struktur ditelapak kaki.





Pembuluh Darah Vena
Pembuluh darah Vena yang terbesar adalah Vena Safena Magna yang panjang dimulai dari sebelah medial dorsum kaki dan menerima cabang-cabang Vena dari daerah ini, kemudian berjalan keatas disebelah medial tungkai dibelakang lutut untuk muncul kedepan lagi dan akhirnya menembus fasia kedalam Vena Femoralis yang berda di dalam selaput Femoralis.
Vena Safena kecil yang pendek mulai pada sisi lateral kaki. Berjalan dibelakang Maleolus lateralis dan melalui tengah tengah betis tungkai kearah lutut. Cabang-cabang dari kaki dan dari belakang tungkai diteima dan akhirnya menembusi fasia di dalam daerah poplitea untuk bergabung dengan Vena Poplitea ( dalam ).
Pada pemeriksaan Plebografi yang diperiksa hanyalah Pembuluh Darah Vena yang berjalan berlawanan arah dengan Pembuluh Darah Arteri. Pembuluh Darah Arteri berjalan dari jantung sampai ke kaki bagian bawah sedangkan Pembuluh Darah Vena berjalan dari kaki bagian bawah kembali manuju jantung.








Gambar 1 dan 2  Anatomi Peredaran darah Arteri dan Vena pada Extremitas Inferio
Patologi dan Indikasi Pemeriksaan
Beberapa kelainan patologis yang terjadi pada pembuluh darah tungkai bawah antara lain : deep vein trombosit (DVT), flebitis, thrombosis vena dan trombo-flebitis. Varises istilah Varises vena menunjukkan adanya dilatasi vena, yang secara khas disertai keadaan vena yang memanjang dan berkelok-kelok. Penyebab varises vena yang pasti belum diketahui. Varises dibedakan menjadi primer dan sekunder. Penyebab varises primer tampaknya adalah kelemahan structural dari dinding pembuluh darah yang diturunkan. Dilatasi dapat disertai gangguan katup vena karena daun katup tidak mampu menutup dan menahan aliran refluks. Varises primer cenderung terjadi pada vena-vena permukaan karena kurangnya dukungan dari luar atau kurangnya resistensi jaringan subkutan.
Varises sekunder disebabkan oleh gangguan patologi system vena dalam yang ditimbulkan konginental atau didapat, menyebabkan dilatasi vena-vena permukaan, penghubung atau kolateral. Jika katup vena penghubung tidak berfungsi dengan baik, maka peningkatan tekanan sirkuit vena dalam akan menyebabkan aliran balik darah kedalam vena penghubung. Darah vena akan dialirkan ke vena permukaan dari vena dlam, hal ini merupakan predisposisi untuk timbulnya varises sekunder pada vena permukaan. Pada keadaan ini vena permukaan berfungsi sebagai pembuluh kolateral untuk system vena dalam.
Indikasi Pemeriksaan ini dilakukan untuk :
Menentukan letak kedalaman pembuluh darah vena
Kemampuan katup pada pembuluh darah vena
 Letak kebocoran pada pembuluh darah vena
Ketiga hal tersebut merupakan indikasi dari Deep Vena Thrombosis  (pembengkakan dinding pembuluh darah vena) dengan atau tanpa pulmonary atau embolism penyumbatan dan penggumpalan pada pembuluh darah dan Oedema.
Kontra Indikasi 
Pasien dengan riwayat alergi kontras media berat
Kehamilan
Umur tua dengan status cardiopulmonary berat

Prosedur Pemeriksaan
Pengertian
Plebografi atau secara umum disebut juga venografi adalah pemeriksaan pembuluh darah vena pada bagian extrimitas bawah (anggota gerak bawah) dengan penyuntikan kontras media langsung kedalam vena superficial pada telapak kaki bagian dorsal.. Pembuluh vena yang sering dilakukan pada pemeriksaan ini antara lain : vena orbitalis, vena extrimitas inferior, vena cava inferior.
Alat dan Bahan
Steril
Sclap vein set (butterfly needles) ukuran 19 dan 23
Spuit 20 dan 50 ml
Flexible connections dan Y-Shape connector
Drawing-up cannula dan Gallipot
Kain kassa dan Baju pasien
Unsteril :
Skin cleanser (Hibitine 0,5 %)
Local anastesi (Lignocaine 1 %)
Kontras Media (Meglumine Iothalamate 60 %, Conray 280)
Jarum disposible
Infus
Plester
Obat-obat emergency

Persiapan Pasien sebelum prosedural
Pasien tidak makan dan minum selama 5 jam sebelum tindakan
Pasien mixie sebelum pemeriksaan
cek status renalis (BUN, Creatinin) dan hidrasi, khususnya penderita diabetes
Informed consent
Kurangi kecemasan pasien, jika perlu sedasi dengan diazepam 10 mg per oral
Mendapatkan hasil dari test noninvasif sebelumnya atau venogram

Teknik Pemeriksaan
 Foto Pendahuluan
Pasien diposisikan supine, dipertengahan meja pemeriksaan
Foto mencakup tungkai atas, lutut, tungkai bawah dan ankle dengan menggunakan under couch tube.
Foto Selanjutnya
Pasien diberikan premedikasi, yaitu Omnophon sebelum pemeriksaan kemudian berikan anastesi lokal pada daerah vena superficial pada bagian telapak kaki bagian dorsal
Jika memungkinkan pemeriksaan pasien dilakukan dengan posisi erect, agar pembuluh darah vena bagian dalam akan lebih terlihat. Posisi erect tidak dapat dilakukan pada pasien yang memiliki kasus vena trombosis akut, tetapi pada kasus seperti ini pasien diatur supine dengan menyudutkan meja pemeriksaan 20°-30° dengan posisi kaki lebih rendah dari kepala.
Lakukan kompresi pada ankle, pada beberapa kasus biasanya dilakukan kompresi di beberapa bagian seperti pada bagian bawah lutut untuk memperkuat pengisian pembuluh darah vena pada kaki.
Kompresi tersebut lebih bagus bila dilakukan dengan mengikatkan tali yang ukuran lebarnya 5 cm (2 inci).
Pemasukan kontras media dilakukan dengan penyuntikan jarum kecil yang disambungkan dengan flexible polythen (butterfly needle) ke dalam pembuluh darah vena di kaki bagian dorsal dan pastikan jarum tetap pada posisinya dengan cara dilekatkan dengan plester.
Pada saat penyuntikan kontras media kompresi harus dikencangkan dan pasien diminta melakukan valsava manufer (pasien diminta untuk menarik napas lalu keluarkan sekuatnya sambil mulut ditutup dan hidung dijepit dengan dua jari). Instruksi ini dilakukan agar memberikan efek untuk mengembangkan pembuluh darah vena agar menjadi lebih besar dan gambaran katup lebih terlihat pada gambar.
Kaki yang diperiksa diatur endorotasi untuk memisahkan gambaran tibia dan fibula agar tidak overlapping dan tidak menutupi pembuluh darah vena.
Kontras media disuntikkan sedikit demi sedikit dengan kecepatan penyuntikan 5-6 ml/detik hingga vena yang diperiksa penuh, lalu suntikan kembali kontras media untuk mengisi penuh vena yang akan diperiksa selanjutnya sambil mengatur kompresinya. Biasanya untuk mengisi penuh vena pada tungkai bawah diperlukan waktu 5-10 detik setelah penyuntikan. Sedangkan untuk mengisi penuh vena pada tungkai atas diperlukan waktu 15-20 detik setelah penyuntikan.
Perjalanan kontras media diikuti dengan fluoroscopy dan pengambilan foto AP dan Lateral yang dilakukan mulai dari tungkai bawah dengan melepas kompresi pada ankle lalu ke tungkai atas dengan melepas kompresi pada lutut sambil pasien melakukan valsava manufer sesuai instruksi dari dokter radiologi.
Untuk melihat vena illiaca diatur kompresinya dan kemiringan meja pemeriksaan juga dapat membantu memperlihatkan gambaran pangkal dari vena cava inverior.
Setelah pemeriksaan pasien harus diinfus agar konsentrasi kontras media berkurang dalam pembuluh darah berkurang dan lebih mudah diserap oleh tubuh.

Prosedural dan Foto
Lakukan puncture vena dengan memilih vena perifer pada dorsum pedis kemudian pasang tourniquet pada proksimal paha dan distal betis.
Injeksikan kontras 100-150 ml terus menerus, pastikan bebas reflux darah, tidak ada subcutaneous extravasasi (terasa nyeri dan lokal sweeling selama pemberian kontras) dan injeksi kontras mudah dimasukkan pada salah satu kaki dengan  tekanan yang cukup, posisi pasien seperti pada gambar 1.
Ikuti kontras IV secara intermitten dengan fluoroskopi. Diinjeksikan dengan tangan lebih dari 2 menit







Gambar 3 CR-Arah sinar dan penyudutan dari meja pemeriksaan
Pada tiap-tiap tungkai Extremitas Inferio
Sinar tegak lurus dengan kaset film dibawah lutut,  45-60 derajat sudut dibentuk antara meja pemeriksaan dengan bidang datar.
Sinar fokus pada lutut yang tegak lurus dengan kaset film, 30-45 derajat sudut dibentuk antara meja pemeriksaan dengan bidang  datar.
Sinar fokus pada cavum pelvis yang tegak lurus dengan kaset film, 15-30 derajat sudut antara meja pemeriksaan dengan bidang datar.
Posisi supine dengan sinar frontal tegak lurus dengan film setinggi umbilicus; opsifikasi pada vena iliaka dan IVC dilakukan dengan maneuver valsalva selama elevasi kaki
















Hasil Radiografi
Lower limb venogram
Right Popliteal Vein
Thrombus

Thrombus






Normal left lower limb venogram
Common Iliac Vein

External Iliac Vein

Femoral Vein

Popliteal Vein

Kesimpulan
Plebografi adalah pemeriksaan radiografi dari pembuluh darah Vena pada bagian extrimitas bawah (anggota gerak bawah) dengan menyuntikkan kontras media langsung kedalam vena superficial pada telapak kaki bagian dorsal.
Indikasi Pemeriksaan
Menentukan letak kedalaman pembuluh darah vena
 Kemampuan katup pada pembuluh darah vena
 Letak kebocoran pada pembuluh darah vena
Ketiga hal tersebut merupakan indikasi dari Deep Vena Thrombosis  (pembengkakan dinding pembuluh darah vena) dengan atau tanpa pulmonary embolism  ( penyumbatan dan penggumpalan pada pembuluh darah ) dan Oedema.
Kontra Indikasi 
Pasien dengan riwayat alergi kontras media berat
Kehamilan
Umur tua dengan status cardiopulmonary berat






DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Plebografi. Online: http://setanmantul.blogspot.com/2014/02/plebografi.html. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2012. Plebografi. Online: http://stockingsehat.blogspot.com/2012/07/plebografi.html. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2012. Teknik Pemeriksaan Plebografi. Online: http://blogbabeh.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false_17.html. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2010. Gambar Peredaran pembuluh darah Vena Extremitas Bawah. Online: http://3.bp.blogspot.com/_yfGe_52-Yx4/TUPlY15jHpI/AAAAAAAAAA4/L9yPPYeHKGc/s1600/pendarahan-vena-ekstremitas-bawah.jpg. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Anonim. 2013. Gambar Anatomi pendarahan Vena Extremitas Bawah. Online: http://3.bp.blogspot.com/_e6KHJps0mEU/TP-QrkipCoI/AAAAAAAAAC0/WSTLWmuqa0w/s320/em_2399.gif. Diakses tanggal 28 Agustus 2014.
Briand, G. 1998. Diagnostic Radiologic: Third Edition.
Ballinger, Phillip W. 1986. Merrill’s Atlas Of Radiographic Positions and Radiologic Procedures: Vol. Three_ Sixth Edition. USA:Mosby.









































PLEBOGRAFI

Disusun
Oleh :
Kelompok I
AHMAD WAHYU MANGGALATUNG ARTIAH
ANDI MUHAMMAD AKRAM AWALIYAH
ANDI NURUL CHUTAMI ELVITA A. SOLEMAN
ANTON CIREMAI PUTRA ARNA ANUGRAHWATI
FIRDAYANTI BUGIS FITRYANINGSIH
FAISAL ALBAR

AKADEMI TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI ( ATRO )
MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014



Senin, 17 November 2014

Cara mencerahkan kulit wajah secara alami

Treatment kecantikan dari dalam tubuh
Diawali dengan pembiasaan gaya serta pola hidup
yang sehat. Akan sangat membantu dalam proses
pemutihan wajah secara optimal. Diantaranya
adalah dengan rajin mengkonsumsi makanan
yang sehat dan bergizi serta ditunjang asupan
sayur serta buah-buahan. Dengan demikian
terjadinya perbaikan regenerasi sel kulit mati
serta tergantikan dengan yang baru. Efek positif
lainnya yang dihasilkan dari makan sayur dan
buah-buahan adalah memberi asupan nutrisi
yang berkecukupan sehingga kulit wajah tampak
lebih segar, sehat dan cerah. Didukung dengan
banyak minum air putih sekurangnya 2 liter
perhari atau setara dengan 8 gelas banyaknya
akan menjaga dari dehidrasi,kulit jadi tidak sehat
dan cenderung kering.
Treatment kecantikan dari luar tubuh
Beragam treatment kecantikan luar tubuh yang
bisa dipraktekan, semisal memanfaatkan bahan-
bahan alami sebagai masker wajar agar kelihatan
lebih cerah, putih dan sehat selalu.
Buat masker bengkoang
Ditilik dari namanya bahan dasarnya memang
dari buah bengkoang. Cukup dengan
menghaluskan bengkoang lalu dioleskan pada
wajah selama setengah jam. Bilas kemudian
dengan air dingin.
Terapi dengan buah Mentimun atau tomat
Meskipun ini cara yang sudah lama dipakai
kebanyakkan orang, tidak ada salahnya mencoba.
Potong bundar dan tipis-tipis buah mentimun
atau bisa juga tomat, lalu tempelkan pada
permukaan wajah. Dengan memberikan efek yang
menyegarkan bisa memberikan terapi baik pori-
pori kulit membuka, hingga otomatis kotoran bisa
mudah keluar.
Masker kentang
Biarpun terasa asing bisa dicoba masker satu ini
yang berbahan dasar kentang. Karena dipercaya
akan vitamin B kompleks, vitamin C serta mineral
yang dibutuhkan mampu menjadikan kulit wajah
tampak cerah. Dengan memilih kentang segar dan
dihaluskan lembut kemudian dicampur dengan
1sdt madu, balurkan sebagai masker wajah.
Diamkan beberapa saat. Lalu bilaslah air sampai
bersih. Lakukan selama kurang lebih 3 kali dalam
seminggu. Tunggu hasilnya hingga kulit wajah
tampak merona cerah, sehat dan berseri-seri.
Masker buah pepaya
Buah sederhana nan sehat ini dianggap memiliki
kandungan vitamin A, vitamin C serta
betakaroten yang tinggi bisa dimanfaatkan
menjadi masker wajah. Hanya dengan
mengoleskan buah papaya yang halus, diamkan
beberapa saat, kemudian bilas dengan air sampai
bersih.
Membasuh dengan air sisa teh
Cara ini kerap dilakukan orang jaman dulu, dalam
mendapatkan wajah yang bersih, sehat tanpa
noda ada baiknya memanfaatkan sisa air teh
yang telah mengendap. Dipercaya meluruhkan
sel-sel kulit mati dan memberikan aroma
ketenangan serta kesegaran pada wajah.
Masker dari beras
Ternyata dalam beras terkandung sejumlah
vitamin yang baik untuk vitalitas kesehatan kulit
yakni vitamin E, yang diyakini sebagai antioksidan
dan melindungi kulit dari paparan sinar violet.
Setelah rendaman beras ditumbuk halus,
dicampurkan dengan takaran kecil madu,
kemudian oleskan sebagai masker wajah.
Diamkan beberapa saat kemudian baru bilas
dengan air dingin.
Demikian hal simple dalam cara mencerahkan
kulit wajah secara alami . Jika dilakukan secara
konsisten dan teratur, niscaya kulit wajah cantik,
segar serta cerah akan mudah diperoleh. Semoga
bisa memberikan manfaat.



Jumat, 14 November 2014

EX

Andai keinginanku bisa terwujud sekarang ini detik ini menit ini pastinya rasanya akan sangat lega
Keinginanku tidak banyak bahkan tidak runit. Saya hanya ingin melupakan semua tentangmu apapun itu tentangmu. Inginku melupakanmu bukan karna ada rasa benci, dendam bahkan penyesalan sedikitpun terhadap waktu dan takdir yang telah mempertemukan kita.
Hanya satu alasanku untuk melupakanmu yaitu setiap mengingatmu mata ini berkaca kaca bagaimana tidak kehidupan yang telah engkau jalani selama ini begitu keras, rumit dan bahkan bisa dikatakan jauh dari kata kehidupan yang layak. Layak dalam artian dirimu begitu haus akan kasih sayang dari kedua orang tua. Semua itu hilang saat ibunya kembali hadapan sang pencipta, saat itu pula yang saya ketahui kehidupannya berubah.

Saya bersyukur bangat punya keluarga yang utuh Alhamdulillah dan karna itulah setiap saya ingat dia saya merasa kasihan. Andai Tuhan mengabulkan permintaanku untuk bisa menghapus semua data tentangnya yang sudah tersave di memori ini.



Rabu, 29 Oktober 2014

Wanita

Wahai wanita.
Akan datang manusia disampingmu memakaikanmu pakaian anggun berhiaskan intan permata, ia akan mengucapkan salam dan mengetuk nuranimu yang suci dan membangunkan para misteri dalam tubuhmu.
Manusia ini adalah darah kotor berbau lumpur yg ingin merenggut intan suci dlm ragamu dan hendak menjadikannya abu kematian.
Manusia ini adalah sekuntum bunga bangkai yang pura-pura memeluk wangi melati disamping tubuhmu.
Manusia ini datang dengan tutur sapa yang lemah lembut, berdiri disamping wajahmu dan membisikkan perihal cinta dengan setangkai bunga mawar.
Jika engkau mengetahuinya, ia lebih keji dari iblis.
Manusia itu adalah jelmaan dari jari-jari kebohongan yang menyeka panca indramu dengan keyakinan yang teguh tapi ia akan menenggelankanmu bersama tubuhmu diatas lautan darah kotor berbau lumpur.
Dan kamu sang wanita adalah anting-anting bidadari, jika kamu telah diculik diatas ranjang kenistaan maka kamu telah menjelmakan wajahmu menjadi rupa kematian.
Hidup ini adalah roda waktu yang menyiapkan jebakan dalam sepanjang jalanmu. Jika engkau menutup mata batinmu maka sesungguhnya engkau telah menutup pintu kuburmu dengan bongkahan batu hitam cinta.
Mks - Okt 2014
"SRS"



Mereka-mereka ini adalah kaum yang tak didengarkan. Kaum "Mustadhafin" yang pekik air mata, suara tangis menderu diatas jam dan waktu. Mereka ini adalah kaum-kaum yang mengatasnamakan dirinya rakyat tertindas, mereka adalah kurcaci-kurcaci yang dijadikan lambang permainan birokrasi. Duduk disamping tembok mendengar tawa para penyamun yang telah menyandra bangsa dengan sejumlah bualan-bualan konyol. Mereka yang meminum air matanya sendiri dan memakan tipuan-tipuan tahta yang sejenak lupa pada peraduan kehidupan laksana suara azan dan gerakan salat. Mereka-mereka adalah manusia muda yang dididik menjadi pencuri, didalam tahanan duniawi mereka pula menyusun tragedi, meniupkan gelombang prahara, lalu masuk merusak budi pekerti dan menjadikannya tradisi.
Mereka-mereka adalah anak muda yang diajak masuk pada ranting pohon tirani yang bermain dirumah rezim yang pedih.
Mereka-mereka adalah kaum peneriak bangsa merdeka untuk masa lalu dan menjadi penghancur bangsa untuk masa kini.
Mereka juga adalah korban pelampiasan kebejatan yang dipaksa tidur diatas ranjang prostitusi, perempuan muda yang diajarkan jauh dari hukum adat dan diserukan membanting idealisme dan memecahkan perawan didalam sempitnya ruang ekonomi.
Yah, mereka-mereka adalah budak-budak yang sentimentil oleh kediktatoran dan interventif zionis yang menegakkan tongkat mata satu didalam rahim bangsa Indonesia.
Pemuda-pemudi yang semestinya masuk didalam ruang persaingan logika, justru malah sibuk bersaing mengemis perhatian dari pada pemimpin yang siap untuk dipuji-puji dan tersanjung.
Mereka-mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi yang dijadikan alat ekonomi dan pusat bisnis era globalisasi. Mahasiswa-mahasiswi apatis yang tak tahu menahu persoalan bisnis dan dipancung terus-menerus oleh fragmatis dari ruang kapitalis. Mereka yang tidak memandang aliran sejarah kini angkuh pada kepentingan-kepentingan yang konyol dan membunuh. Asuhan tradisi telah menjadi lampu temaran yang remang-remang dalam jalan panjang menuju penjajahan.



Tanpa judul

Sungguh beruntung engkau laki-laki yang menemukan perempuan yg. Mulia, bersamamu hari-harimu akan berbeda, rezekimu akan lebih baik, dan mengajarkanmu kedewasaan, ia adalah perempuan baik yg mengatakan padamu "jangan mengeluh, beribadahlah, bersyukurlah, kamu pasti bisa, kamu adalah pemimpinku pemimpin untuk org lain, dan pemimpin u/ dirimu sendiri., kamu adalah laki" terhebat sepanjang masa buat aku".
~SRS



Syair

Cinta adalah syair yang muncul dari dalam jiwa.
Ia adalah sulaman antara anggur dan para penyihir yang berdiri di pintu hati manusia. Jika ia mengucapkan salam, maka bukalah dengan sederhana. Sungguh, pada itulah ia akan menipumu dengan gaun anggun yang berhiaskan intan permata.
Jika engkau memperlakukannya dengan raja maka ia akan menjadikanmu seorang budak, namun jika engkau melihatnya seperti budak maka ia akan menganggapmu seperti raja.
~SRS



Kamis, 05 Juni 2014

Friday

Mencela mencela seakan akan manusia paling sempurna di dunia ini tidak ada cacatnya sedikitpun saya sadar apa yang saya lakukan itu salah tapi yahh godaan setan terlalu besar :) hhaaa
Kadang saya berfikir mungkin orang yang saya cela jauh lebih baik dari saya

Susah loh jadi orang baik pengen banget didalam penantian ini menjadi jauh lebih baik dari sekarang kehidupan buruk ku dulu semuanya dihilangkan

Ya Allah bantu hamba ya Allah



Minggu, 18 Mei 2014

Pengaruh Geometri pada Radiograf

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Citra radiografi merupakan hal penting dalam menunjang praktek Kedokteran radiografi sehari-hari. Setiap radiologist (dokter spesialist radiologi) pasti menginginkan gambar radiografi atau foto rontgen dengan kualitas yang semaksimal mungkin dalam rangka menegakkan diagnosis, membuat rencana perawatan, dan menilai keberhasilan perawatan yang telah dilakukan terhadap pasiennya.
Radiografer sebagai seorang mitra kerja seorang radiologist (dokter spesialist radiologi) harus dapat memberikan hasil kerja yang maksimal dan berkualitas, baik detail mutu maupun karakteristik gambar radiografi. Apabila citra radiografi yang dihasilkan terlalu rendah, dapat menyebabkan tingkat diagnostik yang rendah pula, dan apabila kualitas diagnosa yang dihasilkan rendah, pasti akan menimbulkan kesulitan dalam menentukan tahap perawatan berikutnya terkait kasus yang dialami pasien.
Secara umum, salah satu faktor penentu tingginya kualitas gambar radiografi (citra radiografi) yang dihasilkan adalah kualitas dari equipment atau perlengkapan pemeriksaan radiografi. Sebagai sumber daya manusia paramedik yang berkualitas terutama dalam faktor geometri.        

Rumusan Masalah
Apakah pengertian dari geometri ?
Bagaimana sejarah dari geometri  ?
Apakah pengaruh geometri terhadap kualitas radiograf ?

Tujuan
Untuk mengetahui pengertian dari geometri
Untuk mengetahui bagaimana sejarah geometri
Untuk mengetahui apakah pengaruh geometri terhadap kualitas radiograf

Manfaat Penulisan
Sebagai tugas dari mata kuliah Fisika Radiodiagnostik 
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pengertian, sejarah dan pengaruh geometri terhadap kualitas radiograf
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa Atro yang lain.




BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Geometri
Geometri berasal dari kata Greek atau geo adalah bumi dan metria adalah ukuran jadi geometri adalah sebagian dari matematika yang mengambil persoalan mengenai ukuran, bentuk, dan kedudukan serta sifat ruang. Geometri adalah salah satu dari ilmu yang tertua. Awal mulanya sebuah badan pengetahuan praktikal yang mengambil berat dengan jarak, luas dan volume, tetapi pada abad ketiga geometri mengalami kemajuan yaitu tentang bentuk aksiometik oleh Euclid yang hasilnya berpengaruh untuk beberapa abad berikutnya.Geometri merupakan salah satu cabang dalam ilmu matematika. Ilmu Geometri secara harfiah berarti pengukuran tentang bumi, yakni ilmu yang mempelajari hubungan di dalam ruang.
Peradaban-peradaban kuno ini diketahui memiliki keahlian dalam drainase rawa, irigasi, pengendalian banjir dan pendirian bangunan-bagunan besar. Kebanyakan geometri Mesir kuno dan Babilonia terbatas hanya pada perhitungan panjang segmen-segmen garis, luas, dan volume.


Sejarah Geometri
Ada enam wilayah yang dapat dipandang sebagai sumber penyumbang pengetahuan geometri yaitu
Babilonia (4000 SM - 500 SM)
Geometri yang lahir dan berkembang di Babilonia merupakan sebuah hasil dari keinginan dan harapan para pemimpin pemerintahan dan agama pada masa itu. Hal ini dimaksudkan untuk bisa mendirikan berbagai bangunan yang kokoh dan besar.  Juga harapan bagi para raja agar dapat menguasai tanah untuk kepentingan pendapatan pajak. Teknik-teknik geometri yang berkembang saat itu pada umumnya masih kasar dan bersifat intuitif. Akan tetapi, cukup akurat dan dapat memenuhi kebutuhan perhitungan berbagai fakta tentang teknik-teknik geometri saat itu termuat dalam Ahmes Papirus. Peninggalan berupa tulisan ini merupakan bagian dari barang-barang yang tersimpan oleh museum-museum di London dan New York. Dalam Papirus ini terdapat formula tentang perhitungan luas daerah suatu persegi panjang, segitiga siku-siku, trapesium yang mempunyai kaki tegak lurus dengan alasnya, serta formula tentang pendekatan perhitungan luas daerah lingkaran

Yunani(600 SM – 400 SM)
Di Yunani geometri mengalami masa emasnya. Sekitar 2000 tahun yang lalu ditemukan teori yang kita kenal dengan nama teori aksiomatis. Teori yang mendasarkan pada sesuatu yang paling dasar yang kebenarannya kita terima begitu saja. Kebenaran semacam ini disebut sebut kebenaran aksioma. Dari sebuah aksioma diturunkan berbagai dalil baik dalil dasar maupun dalil turunan. Dari era ini juga diperoleh warisan buku geometri yang hingga kini belum terbantahkan yaitu geometri Euclides.
Mesir (5000 SM - 500 SM)
Bangsa Mesir mendiami wilayah yang sangat subur di sepanjang sungai Nil. Pertanian berkembang pesat. Pemerintah memerlukan cara untuk membagi petak-petak sawah dengan adil. Maka, geometri maju di sini karena menyajikan berbagai bentuk polygon yang di sesuaikan dengan keadaan walayah di sepanjang sungai Nil. Orang-orang Mesir rupanya telah mengembangkan rumus-sumus ini dalam kehidupan mereka untuk menghitung luas tanah garapannya.
Selain melanjutkan mengembangkan geometri, mereka juga mengembangkan sistem bilangan yang kini kita kenal dengan sexagesimal berbasis 60.

Jasirah Arab (600 - 1500 AD)
Pada Zaman Pertengan, Ahli matematik Muslim banyak menyumbangkan mengenai perkembangan geometri, terutama geometri aljabar dan  aljabar geometri. Al- Mahani mendapat idea menguraikan masalah geometri seperti menyalin kubus kepada masalah dalam bentuk aljabar. Thabit Ibnu Qurra (836 – 901) dengan pengendalian aritmetikal yang diberikan kepada ratio kuantitas geometri, dan menyumbangkan tentang  pengembangan geomeri analitik. Omar Khayyam (1048 -1131) menemukan penyelasaian geometri kepada persamaan kubik.
India (1500 BC - 200 BC)
Di India para matematikawan memiliki tugas untuk membuat berbagai bangunan pembakaran untuk korban di altar. Salah satu syaratnya adalah  bentuk harus berbeda tetapi luasnya harus sama. Misalnya, membuat bangunan pembekaran yang terdiri atas lima tingkat dan setiap tingkat terdiri 200 bata. Di antara dua tingkat yang urutan tidak boleh ada susunan bata yang sama persis.   Saat itulah muncul ahli geometri di India.  Tentu, bangunan itu  juga dilengkapi dengan atap. Di sinilah berkembang teori-teori geometri.


Cina (100 SM - 1400).
Di awal perkembangan Islam, para pemimpin Islam menganjurkan agar menimba ilmu sebanyak mungkin. Kita kenal belajarlah hingga ke negeri Cina. Dalam era itu, Islam menyebar di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol, Portugal, dan Persia salah satu yang dikembangkan adalah trigonometri dimana trigonometri merupakan salah satu pendekatan untuk menyelesaikan masalah geometri secara aljabar. Kita mengenalnya menjadi geometri analitik. Mereka juga mengembangkan polinomial.
Di wilayah timur Cina dikenal sebagai penyumbang  pengetahuan matematika yang handal. Di Cina terdapat buku yang berisi sembilan bab tentang matematika yang dibuat sekitar tahun 179 oleh Liu Hui. Buku ini memuat banyak masalah geometri. Di antaranya menghitung luas dan volume.







Pengaruh Geometri terhadap  Kualitas Radiograf
Geometri sangat berpengaruh terhadap kualitas radiograf diantaranya :
Pada saat penggunaan teknik Makroradiograf
Makroradiografi ialah teknik radiografi yang digunakan untuk memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran awalnya atau gambaran yang sebenarnya. Tujuan dari pembuatan gambar makroradiografi ialah untuk memperoleh informasi yang lebih jelas, yang tidak diperoleh dari hasil radiograf biasa diakibatkan oleh ukuran dari bagian-bagian tersebut yang teramat kecil.
Prinsip Pemeriksaan Makroradiografi
Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi atau pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya Adapun prinsip pemeriksaan teknik makroradiografi antara lain : 
Tanpa grid karena adanya air gap yang diakibatkan oleh OFD (Objek Film Distance) yang lebih besar.
Gambaran yang dihasilkan akan lebih besar dari gambaran yang sebenarnya bergantung pada pembesaran yang diinginkan.
Pemilihan focus kecil untuk mengurangi ketidaktajaman gambar.
Faktor eksposi lebih besar dikarenakan adanya pengaruh dari FFD dan air gap
Faktor-faktor yang berpengaruh
Faktor Pembesaran 
Jarak OFD dan FOD maka objek terletak diantara dua focus
Pembesaran bertambah bila OFD ditambah atau diperbesar
Pemilihan ukuran fokus berkaitan dengan adanya Unsharpness Geometri. Ukuran fokus yang semakin kecil akan memperkecil ketidak tajaman geometri.
Faktor Ketidakt ajaman Geometri 
Unsharpness Geometri berbanding lurus dengan ukuran focus yang digunakan
Unsharpness Geometric berbanding terbalik dengan FOD
Unsharpness Geometric berbanding lurus dengan OFD
Faktor Ketidak tajaman karena Gerakan
Gunakan peralatan fiksasi untuk mengurangi gerakan pasien.
Pergerakan pasien dapat menimbulkan Movement Unsharpness.


Faktor Eksposi 
Pemilihan Faktor Eksposi dipengaruhi oleh adanya Air gap antara objek dan film.
Semakin besar Air Gap maka Faktor eksposi yg digunakan akan makin besar.
Faktor Posisi
Tabung sinar – X harus diatur tegak lurus terhadap film dan objek
Bidang objek dan film diatur sejajar
Adanya kemiringan dari objek dapat mengakibatkan terjadinya distorsi gambar.
Teknik Pembesaran
Atur jarak focus ke objek (FOD) : 80 cm
Letakkan kaset diatas lantai sehingga jarak antara film dan objek pada meja pemeriksaan (OFD)  80 cm dan jarak antara fokus film (FFD) menjadi 160 cm.
Atur supaya sentrasi sinar tepat berada tengah kaset.
M =     =   = 2 , Jadi, M = 2 ( 2x Pembesaran )
     


Magnifikasi Geometri pada Radiografi
Magnifikasi atau pembesaran obyek ditentukan oleh perbandingan jarak. Jarak dari focal spot ke reseptor ( FFD ) untuk menghindari terjadinnya distorsi.
Cara Untuk Mengurangi Distorsi
Meminimalkan  jarak film ke obyek atau FOD berarti mengurangi  resiko ketidaktajaman dan mengurangi pembesaran citra atau bayangan yang dibentuk pada film.
Pastikan methode proyeksi penyinaran yang diterapkan pada pasien tidak mengakibatkan (objek). Pasien merasa kurang nyaman sehingga pasien cenderung bergerak dan akan mengakibatkan ada jarak atau celah antara film dengan objek sehingga efek magnifikasi atau pembesaran semakin besar.
Sebelum melakukan eksposi, pastikan  garis tengah sejajar dengan film dan tegak lurus dengan pusat sinar-x (Central Ray atau CR).





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Geometri berasal dari kata Greek atau geo adalah bumi dan metria adalah ukuran jadi geometri adalah sebagian dari matematika yang mengambil persoalan mengenai ukuran, bentuk, dan kedudukan serta sifat ruang.
Ada enam wilayah yang dapat dipandang sebagai sumber penyumbang pengetahuan geometri yaitu
Babilonia (4000 SM - 500 SM)
Yunani(600 SM – 400 SM)
Mesir (5000 SM - 500 SM)
Jasirah Arab (600 - 1500 AD)
India (1500 BC - 200 BC)
Cina (100 SM - 1400)
Geometri sangat berpengaruh terhadap kualitas radiograf diantaranya :
Pada saat penggunaan teknik makroradiografi
Pada magnifikasi gambar
Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan yang lebih mendetail tentang materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah ditulis.
DAFTAR PUSTAKA
Gabriel,J.F : Fisika Kedokteran, Buku Kedokteran EGC. Denpasar. 1998
Anonim : Fisika Radiodiagnostik. Diktat . Makassar. 2001
http://aby-matematika.blogspot.com/2011/08/sejarah-geometri.html



Rabu, 14 Mei 2014

Akulah sekuntum bait cinta, jika bibirku menyebutnya, maka bergetarlah jiwaku seperti senar dawai, dengan tembang cinta aku menyanyikan lagu-lagu rindu hingga pagi usai. Dengan topengku, aku berjalan dikeramaian, aku bertemu denganmu, dan masa laluku. Jika engkau kukenalkan dengan masa laluku, begitu mengagumkan dan engkau bertanya tentang keseluruhan cinta. Tapi aku diam. Sebab semuanya adalah topeng. Namun kehendakmu memaksaku, wajahku dingin dan hatiku seperti bertabrakan menghasilkan satu ritme yang menegangkan. Kumulailah menyebutnya cinta. Niscaya engkau akan melingkariku dan menyimak bait-bait syairku. Lalu sesungguhnya engkau tidak mengerti akan itu. Tetapi engkau terus mengagumiku. Tahukah, sahabatku? Setiap malam, aku berkelana, hanya ingin bertemu kesejatian kesepian dan hakikat kedalaman kesunyian. Setiap senja, aku berada dipinggiran pantai menyaksikan ombak memecah buih, dan menjilat karang-karang lelautan. Tapi cinta membuatku seperti majnun!!!

Sudhas Risal Sawil



Minggu, 27 April 2014

Metodelogi penelitian

Metodologi adalah ilmu atau cara melakukan penelitian.
Penelitian adalah usaha menemukan, mengembangkan dan menguji suatu kebenaran ilmu pengetahuan melalui metode ilmiah.

Penelitian dikatakan bersifat ilmiah jika :
Logical berarti penelitian tersebut masuk akal ( berlandaskan teori )
Empiris adalah yang dikemukakan adalah sebuah fakta
Sistematis dalam penelitian maupun dalam penulisan
Metode ( Cara ) Penelitian Ilmiah
Deduksi ( Umum ) teori kuantitatif atau menguji. Penelitian deduksi terbagi :
Deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan teori tanpa adanya sebab akibat.
Eksplanatori adalah penelitian yang mencari hubungan sebab akibat ditandai dengan kata :
Pengaruh
Hubungan
Komperatif
Induksi ( Khusus ) lapangan dan bersifat kualitatif.
Ilmu Pengetahuan
Ilmu ( Science ) adalah pengetahuan yang diperoleh melalui suatu penelitian ilmiah. Dan Pengetahuan adalah sesuatu yang ditemukan baik secara pengalaman, intuisi, teori maupun hasil-hasil penelitian.
Kebenaran suatu ilmu penegetahuan dapat dilihat dari dua pandangan:
Positivisme ( Kuantitatif ) yaitu variabelnya dapat diukur ( diangkakan ) dan teramati.
Post Positivisme ( Kualitatif ) yaitu proses pemaknaan variabelnya.

Struktur Ilmu
Fakta ( Kenyataan atau Fenomena )
Struktur ilmu yang paling mendasar yang merupakan abstraksi terbatas yang dapat menjelaskan suatu gejala, fenomena atau kejadian yang dibatasi oleh pelaku, ruang dan waktu.
Konsep
Suatu simbol yang sifatnya menunjuk sesuatu yang bersifat abstrak ( belum terlalu jelas ).
Contoh : Bangunan Sekolah, Gedung, Murid dan lain-lain.
Generalisasi ( Penggabungan Konsep )
proposisi dimana suatu pernyataan dua konsep atau lebih yang diikat oleh suatu proposisi melalui kata Jika dan Maka.
Contoh :
Jika harga suatu barang meningkat maka permintaan barang tersebut semakin kurang.
Harga dan Permintaan merupakan suatu konsep.
Cara Melihat Suatu Judul dikatakan Baik
Tergambar adanya variabel
Variabel Independen (X) yaitu variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi.
Variabel Dependen (Y) yaitu variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi.
Tergambar Jenis Penelitian
Tergambar Adanya Masalah Penelitian
Tergambar Tempat Penelitian
Cara Menemukan Judul
Menentukan topik atau isu adalah sesuatu yang meresahkan dan sering dibicarakan.
Harapan ( Dassen )
Kenyataan
Masalah adalah adanya geb antara kenyataan dengan harapan
Rumusan Masalah
Judul

Pertimbangan Dalam Merumuskan Suatu Judul
Menonjolkan sesuatu yang unik yaitu ketertarikan orang untuk mengetahui proposal kita.
Keterkaitan dengan peneliti bukan karna ikut-ikutan atau terpaksa.
Memberikan manfaat bagi peneliti atau suatu lembaga.
Peneliti memiliki pengetahuan atau pengalaman tentang yang akan diteliti.
Kemungkinan dapat melakukan eksplorasi atau penelusuran terhadap sesuatu yang baru.
Pengulangan judul-judul yang sama dengan peneliti sebelumnya.
Harus yang uptodate actual dan tren.
Menunjukkan tujuan dan focus kearah mana penelitian dilakukan.
Memberikan kontribusi bagi penggalian atau pengembangan pengetahuan baru.
Harus mencerminkan sesuatu yang dapat memberikan kontribusi bagi peneliti atau lembaga penelitiannya.
Harus berada dalam jurusan atau prodi yang ditekuninya atau profesionalitas dibidangnya.

Kerangka pikir
Peta yang memberikan arahan penelitian tentang dimana dan kenapa kita harus melangkah dan paradigma dapat dilakukan baik secara kuantitatif dan kualitatif. Paradigma ini bisa :
Suatu gambaran
Model teori
Gagasan
Prinsip

Hipotesis
Hipotesis Alternatif  (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel dependen dengan independen
Hipotesis Nol (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan antara variabel dependen dengan independen

Latar Belakang
Umum         
Khusus           
Alasan pentingnya penelitian dilakukan

Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam suatu latar belakang.
Harapan karna yang dipersoalkan adalah masalah.
Kenyataan
Solusi pemecahan masalah
Menarik ( apa yang menarik dari penelitian yang dilaksanakan )
Penting yaitu apa dampak yang ditimbulkan jika tidak dilaksanakan penelitian.

Populasi ( N ) dan Sampel ( n )

Populasi terdapat dua unsur
Unsur Subyek adalah tempat dimana kita mendapatkan informasi atau data dari objek.
Unsur objek adalah sasaran penelitian ( variabel )
Populasi berdasarkan jumlahnya
Populasi Terbatas yaitu jika jumlahnya diketahui
Contoh : jumlah mahasiswa sebanyak 50 orang
Populasi tidak terbatas yaitu jumlahnya tidak diketahui
Contoh : mahasiswa ATRO
Populasi berdasarkan sifatnya atau karakteristik
Homogen yaitu populasi sama
Contoh : sama-sama mahasiswa
Heterogen yaitu populasi yang berbeda
Contoh : pria dan wanita

Apabila jumlah populasi banyak dan sifatnya tersebar berjauhan maka perlu dipertimbangkan dalam pengambilan sampel yaitu dari segi :
Waktu
Biaya
Tenaga
Menentukan besarnya ukuran sampel ( kriteria )
Statistik Deskriptif
Tabel Kranchi
Sistem persentasi minimal 15% dari populasi ( ×N )


Teknik Pengambilan Sampel
Probability Sampling ( Peluang )
Semua populasi berpeluang untuk dijadikan sampel misalnya dengan cara diundi dan lain-lain.
Non Probability Sampling
Tidak semua populasi berpeluang dijadikan sampel misalnya dengan cara :
Stratified Random Sampling
Simple Random Sampling

Alat Analisis Data
Menyangkut tentang struktur data, meliputi :
Editing ( Pengelompokan Data )
Tabulasi Data ( Memasukkan ke dalam tabel statistik )
Interpretasi Data ( Pembahasan )

Sekian dan terimakasih
Semoga bermanfaat



Jumat, 25 April 2014

Mutu Pelayanan Radiologi

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH
Wijoya dalam Assosiation Qualiti Communitee (1999) menjelaskan bahwa mutu adalah gambaran total sifat suatu produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuan memberikan kepuasan pelanggan. Pelayanan Kesehatan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, ataupun masyarakat.
Tujuan pelayanan kesehatan adalah agar tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat               ( consumer satisfaction ), melalui pelayanan yang efektif dan efisien oleh pemeberi pelayanan ( Ahmad Djojosugitjo, 2001 ).
Salah satu bentuk pelayanan dalam bidang kesehatan adalah pelayanan dalam bidang radiologi yang merupakan pelayanan penunjang kesehatan yang menggunakan sinar pengion ataupun bahan radioaktif sehingga penggunaan bahan tersebut mempunyai dua sisi yang saling berlawanan yaitu dapat berguna bagi penegakan diagnosa dan terapi penyakit dan di sisi lain akan sangat berbahaya bila penggunaannya tidak tepat dan tidak terkontrol terlebih lagi bila dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten atau bukan radiografer. 
Saat ini di Indonesia keselamatan pasien sudah mulai menjadi perhatian serius. Dari penelitian terhadap pasien rawat inap di 15 rumah sakit dengan 4500 rekam medis, menunjukkan angka kejadian tidak diinginkan yang sangat bervariasi yaitu 8,0% hingga 98,2% untuk diagnostic error dan 4,1% hingga 91,6% untuk medication error.

Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah langkah terpenting dalam masalah minimnya pelayanan kesehatan dan untuk peningkatan daya saing usaha Indonesia di sector kesehatan. Hal ini tidak ringan karna peningkatan mutu tersebut berlaku untuk semua tingkatan pelayanan kesehatan baik di fasilitas pemerintahan maupun swasta.
Pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat di Indonesia maupun luar negri menjadi isu akhir-akhir ini oleh sebab itu saya sebagai penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana mutu pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan serta aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan khususnya pada Instalasi Radiologi.

RUMUSAN MASALAH
Apakah mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh jumlah radiografer serta kelengkapan sarana dan parasarana yang tersedia pada instalasi radiologi ?

TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui apakah mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh jumlah radiografer serta kelengkapan sarana dan parasarana yang tersedia pada instalasi radiologi

KEGUNAAN  PENELITIAN
Kegunaan Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat berguna untuk memperluas pemahaman keilmuan menyangkut dengan pelayanan yang diberikan terhadap masyarakat.
Kegunaan Terapan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi instalasi radiologi sehingga dapat meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

BAB II
KERANGKA PIKIR
KERANGKA PIKIR
Beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan diantaranya :
Jumlah Radiografer
Jumlah radiografer merupakan salah satu aspek yang menunjang pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan radiografer yang kurang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan yang dilaksanakan tidak maksimal dan kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu Radiografer akan kewalahan dalam menjalankan tugas dan akan menurunkan tingkat kemampuan serta keterampilan kerja dan ketanggapan yang diberikan kepada pasien di rumah sakit.
Ketersediaan serta Kelengkapan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan fasilitas yang sangat penting pada instalasi radiologi dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan fasilitas yang memadai akan membantu peningkatan pelayanan yang akan diberikan kepada pasien.












KERANGKA KONSEP

   










HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis Null ( Ho )
Tidak ada pengaruh antara jumlah radiografer serta kelengkapan sarana dan prasarana terhadap mutu pelayanan pada instalasi Radiologi.
Hipotesis Alternatif ( Ha )
Ada pengaruh antara jumlah radiografer serta kelengkapan sarana dan prasarana terhadap mutu pelayanan pada instalasi Radiologi.





BAB III
METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Instalasi Radiologi di Rumah Sakit Makassar Sulawesi Selatan .
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2014.

Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini yang digunakan adalah penelitian Eksplanatori yaitu mencari hubungan sebab akibat.

Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data primer dan sekunder dimana :
Data Primer merupakan data yang bersumber langsung pada instansi terkait dengan cara melakukan wawancara secara langsung.
Data Sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan beberapa informasi yang berhubungan dengan penelitian dan menggunakan studi pustaka.

Metode Pengumpulan Data
Metode dalam penelitian ini adalah accidental sampling atau probability sampling dimana semua populasi berpeluang untuk dijadikan sampel.


Analisis Data
Pada penelitian ini analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Tahap Editing
Tahap editing dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban yang di dapatkan dari berbagai sumber. Tujuan dari tahap editing ini adalah agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar.
Tabulasi Data
Pada tahap ini data yang sudah diolah pada computer disajikan dalam bentuk tabel statistic.
Interpretasi Data
Setelah dilakukan tahap editing dan tabulasi data selanjutnya data diinterpretasikan ( pembahasan ) guna menajamkan analisa dari penelitian ini.













DAFTAR PUSTAKA

Joeharno 2008. Faktor-faktor yang memepengaruhi mutu,(Online) http://blogjoeharno.blogspot.com/2008/03/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-mutu.html?m=1 Diakses tanggal 15 April 2014.

Diah 2012. Pengertian mutu pelayanan kesehatan (online). http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/05/pengertian-mutu-pelayanan-kesehatan.html?m=1

Nn 2009. Faktor yang berhubungan dengan kinerja (online). http://contohproposalpenelitian.blogspot.com/2009/12/faktor-yang-berhubungan-dengan-kinerja.html?m=1

Primadona.2014. contoh proposal penelitian kualitas. http://primadonakita.blogspot.com/2014/02/contoh-proposal-penelitian-kualitas.html?m=1

Nn.1997. Ilmu kesehatan Masyarakat, Jakarta Rineka Cipta

Hamdana. 2007. Proposal skripsi, Makassar.



OsteoAtrithis

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penemuan sinar X oleh Wilhem Conrad Rontgen seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman telah memberikan perkembangan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya  dalam bidang kedokteran. Penggunaan sinar X dimulai oleh dr. Max Herman Knoch seorang ahli radiology berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai dokter tentara di Jakarta. Sejak saat itulah penggunaan sinar X di Indonesia terus berkembang.
Radiologi merupakan salah satu bagian dari ilmu kedokteran yang memanfaatkan penggunaan sinar X. Dimana ilmu Radiologi memiliki peranan penting dalam proses menegakkan diagnosa. Untuk menegakkan diagnosa suatu penyakit yang terletak di dalam tubuh memerlukan pemeriksaan Radiodiagnostik. Dengan pemeriksaan ini organ-organ yang berada dalam tubuh yang tidak bisa terlihat dengan mata telanjang dapat diperlihatkan melalui gambaran atau pencitraan Radiografi.
Sesuai dengan fungsinya sebagai sarana penunjang dalam menegakkan diagnosa, maka gambaran radiografi harus mempunyai kualitas yang tinggi sehingga diperlukan manajemen terhadap seluruh komponen yang terkait, yang ada dalam proses pencitraan meliputi: pasien, pengolahan, dan teknik pemeriksaan yang digunakan.
Genu atau biasa disebut Knee Joint merupakan salah satu organ yang memerlukan pemeriksaan Radiodiagnostik, karna pada Genu (Knee Joint) sering terjadi gangguan yang biasa disebut OA.

OA singkatan dari Osteoartitis merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit pada tepian sendi dan meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan,serta melemahnya otot–otot yang menghubungkan sendi.
Dengan alasan diatas maka penulis tertarik untuk mengangkatnyamenjadi sebuah laporan kasus akhir PKL I dengan judul “TEKNIK PEMERIKSAAN GENU (KNEE JOINT) PADA KASUS OSTEOATRITHIS (OA)”

Rumusan Masalah
Jelaskan anatomi fisiologi dari Genu !
Bagaimana teknik pemeriksaan genu pada kasus osteoatritis ?
Apa Bagaimana pathologi osteoatrithis ?

Tujuan
Untuk mengetahui anatomi dari knee joint (genu) serta teknik pemeriksaan genu pada kasus osteoatrithis dan mengetahui bagaimana pathologinya.

Manfaat
Sebagai penunjang dalam penyelesaian PKL I di RS. TK. II Pelamonia Makassar
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai bagaimana cara atau teknik pemotretan yang dilakukan agar memperoleh gambar Genu (Knee Joint)  yang baik.
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa Atro yang lain.
BAB II
KAJIAN TORITIS
Anatomi Fisiologi Genu ( Knee Joint )
Anatomi Fisiologi Genu (Knee Joint) terdiri dari :







(Gambar 2.1) Genu proyeksi AP










(Gambar 2.2) Genu Proyeksi Lateral
Femur
Femur merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka. Femur terdiri dari beberapa bagian diantaranya.
Pada bagian pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut caput femoris.
Di sebelah  atas dan bawah dari columna femoris  terdapat  taju yang disebut trochantor mayor dan trochantor minor.
Dibagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut condylus medialis dan condylus lateralis. Diantara kedua condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patella) yang disebut dengan fosa condylus
Patella
Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang femur. Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah hanya jarak patella dengan femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon, patella juga berfungsi sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90 derajat kedudukan patella di antara kedua condylus femur dan saat extensi maka patella terletak pada permukaan anterior femur
Tibia
Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut           os maleolus medialis.
Fibula
Fibula merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya terdapat tonjolan yang disebut os maleolus lateralis atau mata kaki luar.
Patologi pada Osteoatrithis (OA)







(Gambar 2.3) perbandingan patologi genu nomal dengan genu OA

Pada osteoatrithis terdapat proses degenerasi, reparasi, dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat, lapisan rawan, sinovium, dan tulang subchondral. Pada saat penyakit aktif salah satu proses dapat dominan atau beberapa proses dapat terjadi secara bersamaan dalam tingkat intensitas yang berbeda.
Osteoatrithis lutut berhubungan dengan berbagai  defisit patofisiologi seperti instabilitas sendi lutut, menurunnya LGS, disused atrophy dari otot quadriceps, nyeri lutut sangat kuat berhubungan dengan penurunan kekuatan otot quadriceps yang merupakan stabilisator utama sendi lutut dan sekaligus berfungsi untuk melindungi struktur sendi lutut.
Pada penderita usia lanjut kekuatan quadriceps bisa menurun sepertiganya dibanding dengan kekuatan quadriceps pada kelompok usia yang sama yang tidak menderita Osteoatrithis lutut.
Perubahan yang terjadi pada sendi lutut oleh karena Osteoatrithis adalah : 
Degradasi rawan
Degradasi timbul sebagai akibat dari ketidak seimbangan antara regenerasi (reparasi) dengan degenerasi rawan sendi melalui beberapa tahap yaitu fibrilasi. Pelunakan, perpecahan, dan pengelupasan lapisan rawan sendi. Proses ini dapat berlangsung cepat atau lambat. Yang cepat dalam waktu 10 sampai 15 tahun, sedang yang lambat 20 sampai 30 tahun. Akhirnya permukaan sendi menjadi botak tanpa lapisan rawan sendi.
Osteofit
Osteofit timbulnya bersamaan dengan degenerasi rawan, timbul reparasi. Reparasi berupa pembentukan osteofit di tulang subchondral.
Sclerosis subchondral
Pada tulang subchondral terjadi reparasi berupa sclerosis pemadatan atau penguatan tulang tepat di bawah lapisan rawan yang mulai rusak.
Sinovitis
Sinovitis ialah inflamasi dari sinovium dan terjadi akibat proses sekunder degenerasi dan fragmentasi. Matrik rawan sendi yang putus terdiri dari kondrosit yang menyimpan proteoglycan yang bersifat immunogenik dan dapat mengantisipasi lekosit. Sinovitis dapat meningkatkan cairan sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam enzim akan tertekan ke dalam celah-celah rawan. Ini mempercepat proses pengerusakan rawan. Pada tahap lanjut terjadi tekanan yang tinggi dari cairan sendi terhadap permukaan sendi yang botak. Cairan ini akan didesak ke dalam celah- celah tulang subchondral dan akan menimbulkan kantong yang disebut kista subchondral.

Penyebab Osteoatritis Genu
Hal-hal yang dapat menjadi faktor risiko timbulnya Osteoatrithis antara lain :
Usia
Semakin bertambahnya usia, resiko terjadinya penyakit sendi semakin besar. Pada usia tua terjadi perubahan pada rantai proteoglikan dan kandungan air pada tulang rawan. Perubahan struktur tulang rawan sendi menyebabkan perubahan vaskularisasi pada tempat tersebut sehingga aliran darah ke sendi menurun. Penurunan aliran darah ini menyebabkan proses perbaikan tulang rawan sendi menjadi lambat.
Jenis Kelamin
Berdasarkan penelitian, insiden Osteoatritis lutut lebih tinggi pada wanita di banding pria. Pada usia diatas 45 tahun Osteoatrithis lutut mengenai 6 persen sampai dengan 13 persen pada  laki-laki sedangkan pada wanita angka kejadiannya lebih tinggi yaitu 7 persen sampai dengan 19 persen.
Obesitas
Berat badan turut berperan dalam patogenesis dan patofisiologi Osteoatrithis lutut terutama dalam perkembangan penyakit ke derajat yang lebih tinggi. Peningkatan berat badan menyebabkan peningkatan beban yang disokong sendi. Dalam keadaan normal, gaya berat badan akan melalui medial sendi lutut dan diimbangi otot paha bagian lateral, sehingga resultan jatuh pada bagian sentral sendi lutut. Pada keadaan obesitas resultan gaya bergeser ke medial. Beban yang diterima sendi lutut menjadi tidak seimbang, sehingga lutut menjadi varus (menjauhi sumbu tubuh).

Genetik
Adanya mutasi dalam gen prokolagen II dan gen-gen struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan diduga berperan dalam terjadinya Osteoatrithis lutut.
Cedera Sendi, Pekerjaan, dan Olahraga
Pekerjaan berat dengan pemakaian satu sendi secara terus menerus, seperti tukang pahat dan pemetik kapas, meningkatkan resiko terjadinya Osteoatrithis Cedera seperti robekan meniskus dan ketidakstabilan ligamen menyebabkan kerusakan pada tulang rawan sendi, sehingga beresiko terjadi Osteoatrithis.
Kesegarisan tungkai
Sudut antara femur dan tibia yang lebuh dari 180° dapat berakibat beban tumpuan yang disangga oleh sendi lutut menjadi tidak merata dan terlokalisir di salah satu sisi saja, dimana pada sisi yang beban tumpuannya lebih besar akan beresiko lebih besar terjadi kerusakan.
Faktor hormonal dan penyakit metabolic
Perubahan degeneratif pada sendi lutut bisa terjadi akibat perubahan hormonal yang terjadi pada wanita yang sudah menopause. Selain itu, seseorang yang memiliki diabetes mellitus juga bisa terkena Osteoarthritis lutut ini.
Arthritis yang berlangsung lama
Arthritis (peradangan sendi) yang sudah berlangsung lama dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pula Osteoarthritis lutut.


Tanda dan Gejala Osteoatrithis
Penderita osteoarthritis apabila sudah manifes akan memberikan tanda maupun gejala sebagai berikut :
Nyeri sendi
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Nyeri pada osteoartritis sendi lutut, biasanya mempunyai irama diurnal; nyeri akan menghebat pada waktu bangun tidur dan sore hari. Selain itu, nyeri juga dapat timbul bila banyak berjalan, naik dan turun tangga atau bergerak tiba-tiba. Nyeri yang belum lanjut biasanya akan hilang dengan istirahat, tetapi pada keadaan lanjut, nyeri akan menetap walaupun penderita sudah istirahat.
Ada tiga tempat yang dapat menjadi sumber nyeri, yaitu :
sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang timbul akibat adanya debris dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat terjadi akibat kontak dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak.
Kerusakan pada jaringan lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul sendi.
Peradangan pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal dari tulang biasanya akibat rangsangan pada periosteum karena periosteum kaya akan serabut-serabut penerima nyeri.
Kaku Sendi
Kaku Sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah dalam keadaan inaktif.
Krepitus
Krepitus merupakan gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi. Krepitus dapat ditemukan tanpa disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan nyeri yang tumpul.
Keterbatasan lingkup gerak sendi.
Biasanya keterbatasan gerak mula - mula terlihat pada gerak fleksi kemudian dalam keadaan lanjut terjadi keterbatasan kearah ekstensi
Keterbatasan gerak ini disebabkan oleh timbulnya osteofit dan penebalan kapsuler, muscle spasme serta nyeri yang membuat pasien tidak mau melakukan gerakan secara maksimal sampai batas normal, sehingga dalam waktu tertentu mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak sendi pada lutut. Keterbatasan gerak biasannya bersifat pola kapsuler akibat kontraktur kapsul sendi. Keterbatasan pola kapsuler yang terjadi yaitu gerak fleksi lebih terbatas dari gerak ekstensi. Keterbatasan ini akibat dari :
Perubahan permukaan sendi.
Spasme dan kontraktur otot.
Kontraktur kapsul kapsul sendi.
Hambatan mekaniik oleh osteofit atau jaringan yang terlepas.
Deformitas
Deformitas yang dapat terjadi pada OA yang paling berat akan menyababkan distruksi kartilago, tulang dan jaringan lunak sekitar sendi. Terjadi deformitas varus bila terjadi kerusakan pada kopartemen medial dan kendornya ligamentum
Gangguan fungsional
Penderita sering mengalami kesulitan dalam melakukan fungsional dasar, seperti : bangkit dari posisi duduk ke berdiri, saat jongkok, berlutut, berjalan, naik turun tangga dan aktifitas yang lain yang sifatnya membebani sendi lutut.



Pada foto rontgen
Pada foto rontgen tampak adanya penyempitan ruang sendi dan pembentukan osteofit.





Gambaran Klinis atau tanda Osteoatrhitis menurut Altman (1991)
Nyeri sendi beberapa hari sampai beberapa bulan
Pada gambaran radiologis, terdapat osteofit pada tepi sendi
Cairan sendinya terdapat 2 atau 3 tanda, diantaranya; jernih, viscous atau kental, sel darah putih kurang dari 2000 mm3
Kaku sendi di pagi hari kurang dari atau sama dengan 30 menit.
Krepitasi (terdengar suara “klik”) pada saat sendi lutut digerakkan
Gambaran atau tanda Osteoarthritis menurut derajat kerusakanya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa grade :
0 ( tidak ada gambaran OA
1 ( meragukan, dengan gambaran sendi normal, terdapat osteofit             minim
2 (OA minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat          sklerosis dan kista subkondral, celah sendi baik.
3 ( OA moderat, osteofit moderat, deformitas ujung tulang, dan                          terdapat penyempitan celah sendi
4 ( OA berat, osteofit besar

Kriteria Diagnosis dan Indeks Osteoartritis Sendi Lutut
Bila pada seorang penderita hanya ditemukan nyeri lutut, maka untuk diagnosis osteoatrithis sendi lutut harus ditambah 3 kriteria dan 6 kriteria berikut yaitu :
Umur lebih dari 50 tahun.
Kaku sendi kurang dari 30 menit.
Nyeri tekan pada tulang.
Pembesaran tulang dan pada perabaan sendi lutut tidak panas.
Kriteria ini memiliki sensitifitas 95% dan spesifisitas 69%.
Bila selain nyeri lutut juga didapatkan gambaran osteofit pada foto sendi lutut, maka untuk diagnosis osteoatrithis sendi lutut dibutuhkan 1 kriteria tambahan dan 3 kriteria berikut, yaitu
Umur lebih dari 50 tahun.
Kaku sendi kurang dari 30 menit.
Krepitus.
Kriteria ini mempunyai sensitifitas 91% dan spesifisitas 86%. Selain itu dikembangkan pula index penilaian osteoatrithis. Maka bila indexnya ≥ 14, maka derajat osteoatrithisnya ekstrim berat; 11–13, sangat berat; 8–10, berat; 5–7, sedang dan 1–4, ringan.








No.Gejala atau TandaSkorINyeri selama dalam tidurTidak ada
Hanya bila bergerak atau pada posisi tertentu
Tanpa bergerak0
1
2Kaku sendi pada  pagi hari atau setelah bangkit dari berbaring0≤ 1 menit
1 – 15 menit
≥ 15 menit1
0 atau 1
Selama BerjalanTidak ada
Setelah berjalan beberapa langkah
Segera setelah berjalan dan semakin sakit0
1
2Ketika berdiri dari posisi duduk tanpa bantuan lengan0 atau 1IIJarak maksimum yang dapat ditempuh dengan berjalan atau rasa nyeri
Tidak terbatas
>1 Km tapi terbatas
Sampai denga 1 Km kira-kira 15 menit
500 – 900 M kira-kira 8 – 15 menit
300 – 500 M
100 – 300 M
< 100 M
Dengan 1 tongkat atau penyangga
Dengan 2 tongkat atau penyangga

0
1
2
3
4
5
6
1
2IIIAktifitas Sehari – hariApakah anda dapat menaiki tangga yang tegak ?
Apakah anda dapat menuruni tangga yang tegak ?
Apakah anda dapat jongkok ?
Apakah anda bias berjalan di jalan yang tidak rata0 atau 2
0 atau 2
0 atau 2
atau 2Teknik Radiografi Genu (Knee Joint)
Pada pemeriksaan Genu ada dua proyeksi rutin yaitu :
Proyeksi Anterior Posterior (AP)
Posisi Pasien
Pasien supine, jika memungkinkan pasien bisa duduk diatas meja pemeriksaan atau erect (berdiri) di depan chest stand
Pastikan tidak ada rotasi atau pergerakan pada panggul pasien.
Posisi Objek
Knee joint (genu) yang akan diperiksa diatur AP
Tempatkan knee joint di tengah-tengah kaset
Central Point
Pada pertengahan patella
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance
90-100 CM
Gambaran Radiografi








                  (Gambar 2.4) Gambaran Radiografi genu proyeksi AP
Proyeksi Lateral
Posisi Pasien
Tidur miring pada meja pemeriksaan atau berdiri miring di depan chest stand.
Posisi Objek
Lutut yang diperiksa diletakkan di atas kaset dalam posisi mediolateral.
Lutut yang tidak diperiksa disilangkan ke depan atau ke belakang lutut yang diperiksa.
Lutut difleksikan sekitar 20°-30° untuk memaksimalkan rongga persendian lutut.
Tempaktan patella di tengah-tengah kaset.
Central Point
Pada condylus medialis
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance

Gambaran Radiografi






                  (Gambar 2.5) Gambaran Radiografi genu proyeksi Lateral
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan Hasil
Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Umur : 41 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan 
No. RM : 6989
Klinis : Suspect OA Knee
Jenis Pemeriksaan : Genu Sinistra AP/Lateral
Tanggal : 4 Desember 2013

Riwayat Pasien
Seorang perempuan yang berumur 41 tahun dengan berat badan 70 Kg datang ke dokter dengan keluhan nyeri pada sendi lutut setiap kali ingin beraktifitas terutama pada saat berjalan menaiki tangga. Rasa nyeri ini sudah satu minggu dia rasakan
Untuk memastikan apakah ibu ini menderita penyakit OA akhirnya dokter memberi rujukan kepada pasien untuk segera melakukan pemeriksaan radiodiagnostik pada instalasi radiologi

Prosedur Pemeriksaan Genu pada kasus OA
Prosedur pemeriksaan Genu pada kasus OA (Osteoatrithis) meliputi persiapan pasien, persiapan alat, prosedur pemeriksaan radiografi proteksi radiasi dan pengolahan film serta kesan dan hasil diagnose dokter spesialis radiologi.
Persiapan Pasien
Memberikan penjelasan kepada pasien agar melepaskan benda-benda yang dapat mengganggu hasil radiograf.
Persiapan Alat
Pesawat sinar X Kaset ukuran 24×30





(Gambar 3.1)       (Gambar 3.2)

Marker R atau L Meja Pemeriksaan


(Gambar 3.3)
(Gambar 3.4)

Faktor Eksposi Film ukuran 24×30





(Gambar 3.5) (Gambar 3.6)

Proyeksi Pemeriksaan
Proyeksi Anterior Posterior (AP)
Posisi Pasien
Pasien supine, atau erect (berdiri) di depan chest stand. Pastikan tidak ada rotasi atau pergerakan pada panggul pasien.
Posisi Objek
Knee joint (genu) yang akan diperiksa diatur AP
Tempatkan knee joint di tengah-tengah kaset



(Gambar 3.7 dan 3.8  posisi pasien proyeksi AP )
Central Point
Pada pertengahan patella
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance
90-100 CM
Faktor Eksposi
Kv : 46 mAs : 5,0
KriteriaGambar 


(Gambar 3.9) genu proyeksi AP
Proyeksi Lateral
Posisi Pasien
Tidur miring pada meja pemeriksaan atau berdiri miring di depan chest stand.
Posisi Objek
Lutut yang diperiksa diletakkan di atas kaset dalam posisi mediolateral.
Tempaktan patella di tengah-tengah kaset.



(Gambar 3.10 dan 3.11  posisi pasien proyeksi Lateral )
Central Point
Pada condylus medialis
Central Right
Vertikal tegak lurus terhadap bidang film
Focus Film Distance
90 – 100 CM
Faktor Eksposi
Kv : 46 mAs : 5.0
Kriteria Gambar

(Gambar  3.12) genu lateral 

Proteksi Radiasi
Membatasi luas lapangan penyinaran (kolimasi), menggunakan faktor eksposi yang tepat dan memposisikan pasien dengan tepat agar tidak terjadi pengulangan foto, serta menggunakan apron.
Pengolahan Film
Pengolahan Film pada RS. TK. II Pelamonia yaitu pengolahan secara automatic processing (proses film secara otomatis). Pengolahan film secara otomatis pada dasarnya sama dengan pengolahan film manual, namun pada pengolahan film secara otomatis tidak ada tahapan rinsing, karna sudah digantikan oleh roller. Tahapan yang ada pada automatic processing yaitu :
Developing     Fixing             Washing             Drying

Hasil Expertise Dokter Radiologi
(dr. Pangeran Indal Patra Abbas Sp.Rad M.Kes)
Subcondral Sklerotic
Penyempitan celah sendi
Osteoatrithis pada condylus
   Femur, Tibia dan Os Patella






Kesan :
Osteoatrithis (OA) Genu Sinistra
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Proyeksi yang digunakan pada pemeriksaan genu untuk kasus Osteoatrithis di RS. TK. II Pelamonia yaitu proyeksi Antero Posterior (AP) dan lateral.
Osteoartitis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan (kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang, pertumbuhan osteofit pada tepian sendi dan meregangnya kapsula sendi, timbulnya peradangan,serta melemahnya otot–otot yang menghubungkan sendi.

Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,agar mencari keterangan-keterangan yang lebih mendetail tentang materi-materi yang dipaparkan di atas demi kesamaan persepsi dan interprestasi dalam berbagai masalah yang ditulis oleh penulis.
Penyusunan laporan ini diharapkan dapat dijadikan motivasi bagi para pembaca ,khususnya bagi penulis untuk lebih giat dalam mempelajari dan memahami ilmu pengetahuan dibidang radiologi.



DAFTAR PUSTAKA

Third edition Radiologi:Medical Mini Note Production, FKG Unhas;2013
http://masyarakatpiolayanan.wordpress.com/2012/08/osteoatrithis-nyeri-sendi.html
http://ayoncrayon5.blogspot.com/2012/11/osteoarthritis.html
http://rohman-nugroho.blogspot.com/2012/09/bab-i-pendahuluan-a.html
http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/09/proyeksi-ap-dan-lateral-pada-lutut.html
http://ajunkdoank.wordpress.com/2008/12/25/definisi-dan-patologi-oa.html
http://id.m.wikipedia.org/wiki/oa
http://himapspdfkunlam.blogspot.com/2011/12/oa.html







DOKUMENTASI









































Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Most Read