body {background:$bgcolor;background-image:url(http://i46.photobucket.com/albums/f143/tamita2000/blog2-5.jpg);background-position: center; background-repeat:no-repeat; background-attachment: fixed;margin:0; color:$textcolor; font:x-small Georgia Serif; font-size/* */:/**/small; font-size: /**/small; text-align: center;
World of RADIOLOGI
Arna

Followers

Sabtu, 18 Mei 2013

Cinta Putih Abu-Abu



Berseragam putih abu-abu terasa paling menyenangkan dari hal lainnya. Masa Remaja menuju masa dewasa. Banyak teman-teman baru, suasana yang baru dan cowok-cowok keren di sekolah. Awal memasuki masa ini, selalu dihantui ketakutan luar biasa membayangkan eksperesi wajah-wajah seram kakak kelas dan MOS (masa orientasi siswa) yang banyak aturan. Kaos kaki dengan warna yang berbeda putih sebelah kanan dan hitam untuk sebelah kiri, tas dari kardus, dan diselingi dengan permainan yang konyol bagi siswa baru dan lucu bagi kakak kelas yang sok atur. Sangat dan sangat menyebalkan. MOS telah selesai, siswa baru bisa bernapas lega akhirnya bisa lepas juga dari kakak kelas. Memulai segalanya dengan serba baru dari seragam, sepatu, tas, sampai buku. Hehehe?, menguras dompet yang tidak sedikit.

Namaku Dinda. Aku adalah salah satu dari murid baru tersebut. Aku tidak menonjol seperti anak-anak lainnya. Pemalu, murah tersenyum itulah aku. Aku mempunyai banyak teman di sekolah baruku ini. Ada satu teman yang paling dekat denganku dan sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Namanya Haflinda, tapi aku biasa memanggilnya Linda. Linda adalah sosok yang sangat menyenangkan buatku. Kami duduk sebangku. Dia adalah teman masa SMPku. Tiada hari tanpa tawa diantara kami. Segala yang menyedihkan kami jadikan hal yang lucu. Kami berdua sangat kompak. Orang akan bertanya bila melihat aku sendiri karena mereka sering bilang dimana ada Dinda disitu ada Linda. Tak dapat dipisahkan.

Sekolahku lumayan luas, mempunyai lapangan basket, futsal, dan volly. Teman-teman kelasku semuanya menyenangkan, mereka baik dan sayang padaku. Terlebih temanku Intan, dia sangat sayang pada aku dan Linda. Hidupku terasa lengkap punya sahabat dalam kelas ini. Kelas kami adalah Xa.

Suatu hari, tak sengaja aku lewat di depan kelas Xf. Aku melihat seorang cowok yang menurutku begitu manis dan kalem. Dadaku rasanya sesak, jantungku berdegup dengan kencang, dunia rasanya akan runtuh. Pelan-pelan perasaan mengagumi menjadi menyukai dia. Namanya Farid Irawan. Aku tertarik, Linda dan Intan pun telah kuceritakan. Linda selalu setia menemaniku. Setiap istirahat, kami berdua selalu menyempatkan diri untuk jajan melewati kelasnya Farid.

Suatu hari, aku dan Linda lewat di depan kelas Farid, tanpa sengaja Farid keluar dari kelasnya dan hampir bertabrakan denganku. Aku tak berani untuk melihat wajahnya itu, Aku gugup dan rasanya bibir ini hanya bisa tersenyum tidak jelas. Aku bergegas pergi dan menarik Linda.
“Din, lihat Farid deh, dia tersenyum kepada kamu tuh? Cie, ada yang jatuh cinta nih!” kata Linda.
“Ahh, kamu nih. Ngga kok!” jawabku tersipu malu.

Tidak banyak yang aku tahu tentang Farid, Aku hanya tahu bahwa dia sesosok cowok yang sabar dan lebih sering di dalam kelas. Tapi, yang Aku dengar dari temanku yang kebetulan satu kelas dengan Farid, bahwa Farid itu pintar dan fasih dalam membaca Al-Qur’an. “Waah, orang yah tepat! hehehe :D ” kataku dalam hati.

***

Tak terasa satu tahun pun berlalu, Aku naik ke kelas XI dan saatnya untuk pilih jurusan apakah IPA yang setiap hari akan sibuk menghitung angka, atau IPS dengan penghafalan dan pembisnis. Aku, Linda dan Intan sepakat memilih jurusan IPS. Ketika memasuki kelas XI IPS 1, banyak teman-teman baru yang menyenangkan terlebih lagi ada Farid disana. Spontan kami bertiga mencari tempat duduk yang tepat agar setiap hari Aku dapat melihat Farid. Keinginanku itu pun terwujud. Bangku yang Aku tempati bersebelahan dengan bangku Farid.

Tugasku selain belajar dengan tekun bertambah lagi yakni Aku harus selalu terlihat pintar di depan Farid. Urusan dandan atau apalah itu tidak penting, karena bagiku prestasi paling penting. Aku pun selalu masuk juara umum begitupun dengan Farid. Walaupun Farid lebih pintar dari Aku. Tapi aku senang bisa sama-sama masuk juara umum dengannya. Bahkan pada saat pembagian kelompok belajar, Farid sekelompok denganku bersama beberapa teman lainnya. Saat ini Farid ikut dalam pelatihan Basket di sekolahku. Bila sudah saatnya bertanding, Aku mulai stres karena satu hari tidak melihatnya, maka Aku hanya berdoa agar hari itu cepat berlalu.

Farid pernah memberikan Aku harapan. Dia sering menatapku lama, dan seolah berkata sesuatu kepadaku melalui tatapannya itu. Banyak hal yang dia lakukan dan membuatku banyak berharap dan air mata pun tidak pernah bisa tertahankan ketika Aku mendengar dia pacaran dengan adik kelas. Linda dan Intan hanya bisa ikut bersedih denganku.

Melalui Facebook, Aku melihat foto mereka berdua dan itu membuatku sakit dan nyaris putus asa. Setiap selesai latihan basket, Farid selalu mengantarkan pacarnya itu pulang dan selalu lewat dihadapanku. Tapi matanya menatapku seolah ingin melihat kecemburuanku. Yang Aku lakukan hanya tersenyum dihadapan mereka dan menyembunyikan rasa perih ini.
Dua bulan berlalu, Aku mendengar bahwa Farid putus dengan adik kelas yang pernah jadi pacarnya itu. Suatu masalah karena adik kelasnya itu selingkuh dengan teman sebayanya. Dari sorot mata Farid, Aku tak melihat rasa sakit itu.
“Lin, setelah putus dengan adik kelas itu, Farid kelihatannya tidak begitu sedih. Padahal kan, mereka cukup lama pacaran.” Ucapku bertanya-tanya dengan pertanyaan yang aneh-aneh.
“Din, sebenarnya ada sesuatu hal yang aku sembunyikan ke kamu selama ini. Farid sebenarnya suka dan sayang dengan kamu.” Jelas Linda.
“Tapi.. Tapi, kenapa dia pacaran dengan adik kelas itu?” Ujarku dengan penasaran.
“Iyah, tapi dia hanya ingin membuktikan, apakah kamu benar-benar sayang sama dia. Nah buktinya ketika Farid pacaran kamu cemburu, kan!” Ucap Linda.
“Jadi, ketika dia selalu mengantarkan pulang mantannya itu, dia juga sengaja?” Tanyaku.
“Iya, benar. Itu semua rencanaku dengan Farid.” Jelas Linda.

***

Tiba sudah diakhir masa SMA, Aku sudah di kelas XII IPS 1. Perasaan sayang pada Farid masih ada terukir dengan indahnya. Linda selalu menuntunku untuk tidak jatuh pada masalah hatiku. Beruntungnya Aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu menghiburku, Aku kembali dengan kebiasaanku bersaing pelajaran dengan yang lain dan hati tetap terpusat pada Farid.
“Linda, katanya Farid sayang sama Aku. Ini sudah 6 bulan lamanya. Tapi kenapa, dianya nggak nembak-nembak juga. Atau dia sudah melupakan Aku begitu saja. Akhir-akhir ini dia juga sibuk dan jarang ketemu dengan Aku.” Ucapku.
“Semua Akan Indah Pada Waktunya.” Ucap Linda dengan suara yang begitu bermakna.

Ujian akhir sekolah kulalui dengan baik. Nilai yang cukup memuaskan Aku dapatkan. Aku lulus, Linda dan Intan juga lulus. Masa depan kami bertiga ada di depan mata. Saatnya kami melangkah. Acara perpisahan yang menyedihkan. Aku pasti sangat merindukan masa-masa ini. Suka duka yang ada selama 3 tahun. Semua menangis bahagia campur sedih. Aku, Intan dan Linda berpelukan karena sebentar lagi kami akan berpisah. Ijasah telah Aku dapat. Aku melanjutkan masa depanku dengan kuliah di luar kota bersama sahabatku Linda. Intan melanjutkan kuliahnya ke luar negeri ikut dengan keluarganya. Kami bertiga berjanji untuk tidak akan melupakan masa-masa menyenangkan ini. Begitupun dengan Farid yang juga lulus, tapi saat itu sama sekali Aku tidak melihatnya. Kata teman-teman, Farid tadi buru-buru dijemput oleh keluarganya setelah mendengar pengumuman kelulusan.

Di taman kota, Linda mengajakku untuk bertemu. Aku pun pergi ke taman itu. Sesosok Pria keren dan memakai topi membelakangiku, tepat didekat Linda.
“Siapa gerangan dia? Ahh, mungkin pacar Linda kali yang mau dikenalin sama Aku.” Hatiku bertanya-tanya dengan penasaran. Tiba-tiba…
“Hmm.. Kamu? Kamu Farid, kan!” Ucapku dengan terkejut.
“Iya, Aku Farid. Dinda yah?” Balas Farid.
“Lama banget, kita nggak ketemu. Kamu lanjut dimana?” Tanyaku kepada Farid sambil menjabat tangannya.
“Sekarang, aku kuliah di salah satu Universitas di kota ini. Kamu gimana kabarnya? Ucap Farid.
“Alhamdulillah, baik-baik saja!” Jawabku sambil tersenyum.
“Hmm, Aku pergi disana dulu yah. Sebentar saja kok. Tunggu aku disini yah!” Ujar Linda.
“Jangan lama-lama yah?” Kataku kepada Linda.
“Dinda, kita cukup lama yah berpisah. Aku kangen sama kamu. Ada sesuatu hal juga yang ingin aku utarakan ke kamu.” Ucap Farid dengan serius.
“Yah, apa?” Balasku dengan penuh penasaran.
“Aaa..kuu.. Aku sayang sama kamu Dinda? Perasaan ini sudah lama aku pendam. Sejak SMA, dan saat inilah waktu yang tepat untuk aku ngungkapinnya. Kamu mau ngga jadi pacarku sekaligus yang akan jadi istriku kelak?” Jelas Farid memegang tangan Dinda.
“Hmm, Gimana nih Aku jawabnya! Tapi sebenarnya Aku juga sayang dengan Farid.” Ucapku dalam hati.
“Dinda, kamu mau kan? aku sayang dan cinta sama kamu.” Tanya Farid.
“Hmm… Iii.. yah, Aku mau. Aku juga sayang sama kamu.” Jawabku dengan perasaan degdegan.
“Cie, ada yang baru jadian nih! Sweet.. sweet.. Romantis banget!” Ucap Linda yang datang menghampiri kami, dan ternyata semua ini telah Linda rencanakan bersama Farid.

Farid adalah cinta pertamaku di Masa SMA. Dari dia, Aku belajar memahami, berkorban tanpa pamrih, meneteskan airmata, bersabar, rajin belajar dan mengembangkan bakatku. Tanpa dia sadari, dia adalah inspirasiku untuk jadi lebih baik.Semua itu tidak sia-sia karena tiba saat waktunya, keinginanku untuk bersamanya terwujud. Terima kasih banyak Ya Allah, telah kirimkan seseorang seperti Farid dalam masa putih abu-abu.


1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Most Read